Moskow, Purna Warta – Menurut laporan Kantor Berita Sputnik, media Suriah menyebutkan bahwa dalam beberapa hari terakhir sekitar 150 anggota ISIS yang sebelumnya ditahan di penjara-penjara Suriah telah dipindahkan ke Irak. Selain itu, sekitar 150 tahanan lainnya juga dilaporkan sedang dalam proses pemindahan.
Berdasarkan laporan tersebut, para anggota ISIS itu dipindahkan dari Penjara al-Sina’ah yang terletak di kota Hasakah, Suriah timur laut, menuju wilayah Irak.
Sumber-sumber media menyatakan bahwa operasi pemindahan ini dilakukan secara sepenuhnya rahasia dan berlangsung pada malam hari, di bawah pengawasan ketat pasukan militer Amerika Serikat.
Sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) telah mengumumkan dimulainya operasi pemindahan tahanan ISIS dari wilayah Suriah timur laut ke Irak. Menurut pernyataan tersebut, jumlah total tahanan yang akan dipindahkan diperkirakan mencapai sekitar 7.000 orang.
Kekhawatiran Keamanan dan Kontroversi Regional
Pemindahan ini memicu kekhawatiran luas di kalangan pengamat keamanan regional dan otoritas Irak. Sejumlah pihak menilai bahwa relokasi besar-besaran anggota ISIS berpotensi menimbulkan ancaman serius terhadap stabilitas Irak, terutama di wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi basis aktif kelompok tersebut.
Parlemen dan kelompok politik Irak sebelumnya telah berulang kali menentang keberadaan pasukan AS di negara itu, dengan alasan bahwa kehadiran militer Amerika justru memperburuk situasi keamanan dan membuka ruang bagi kebangkitan kembali sel-sel tidur ISIS.
Beberapa analis Irak menilai bahwa pemindahan tahanan ISIS tanpa koordinasi transparan dengan pemerintah Baghdad dapat menciptakan celah keamanan dan meningkatkan risiko pelarian atau reorganisasi jaringan teroris di dalam wilayah Irak.
Konteks Penjara dan Isu Tahanan ISIS di Suriah
Penjara al-Sina’ah di Hasakah selama ini dikenal sebagai salah satu fasilitas penahanan terbesar bagi anggota ISIS di Suriah, yang dikelola oleh Pasukan Demokratik Suriah (Qسد) dengan dukungan Amerika Serikat. Fasilitas ini beberapa kali menjadi sasaran kerusuhan dan serangan, termasuk upaya pembebasan tahanan oleh sel-sel ISIS.
Amerika Serikat dan sekutunya kerap menyatakan bahwa kapasitas Qسد untuk menahan ribuan anggota ISIS semakin terbatas, baik dari segi keamanan maupun logistik, sehingga pemindahan tahanan dianggap sebagai solusi sementara.
Namun, para kritikus menilai bahwa kebijakan tersebut tidak menyentuh akar masalah dan justru memindahkan risiko keamanan dari satu negara ke negara lain.
Reaksi dan Implikasi Lebih Luas
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Irak terkait laporan pemindahan terbaru ini. Sementara itu, kelompok-kelompok perlawanan Irak menuduh Washington menggunakan isu ISIS sebagai dalih untuk mempertahankan kehadiran militernya di kawasan.
Pemindahan rahasia anggota ISIS ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional, termasuk konflik di Gaza, Suriah, dan perbatasan Irak–Suriah, yang secara keseluruhan menambah kompleksitas situasi keamanan di Timur Tengah.
Para pengamat memperingatkan bahwa tanpa strategi regional yang jelas dan kerja sama nyata antarnegara, ancaman kebangkitan kembali ISIS akan tetap menjadi faktor destabilisasi utama di kawasan.


