Washington, Purna Warta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump hanya “bercanda” ketika baru-baru ini mengatakan bahwa ia berencana menjadikan Selat Hormuz sebagai “wilayah Amerika Serikat”, demikian menurut seorang pejabat senior Gedung Putih.
“Menurut seorang pejabat senior Gedung Putih, Presiden Trump belum bertemu dengan para penasihatnya untuk membahas rencana menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat setelah perang berakhir. Ia hanya bercanda ketika menyampaikan pidatonya hari ini di New York,” tulis Brian Schwartz, wartawan Gedung Putih untuk The Wall Street Journal, dalam sebuah unggahan di X pada Sabtu, dengan mengutip pejabat tersebut.
Sebelumnya, Trump mengatakan, “Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan sangat parah—sebentar lagi saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat.”
Schwartz menambahkan bahwa ia memperhatikan Trump “terkekeh” setelah menyampaikan pernyataan tersebut dalam pidatonya.
Menanggapi pernyataan Trump pada Jumat, seorang diplomat senior Iran dengan tegas menolak klaim mengenai status masa depan jalur perairan tersebut. Ia menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak akan terintimidasi oleh ancaman ataupun unjuk kekuatan militer untuk membuka kembali jalur strategis tersebut.
“Selat Hormuz tidak dapat direbut melalui sebuah unggahan di X ataupun kapal induk, melalui sebuah perintah ataupun dengan menyampaikan pidato kampanye pemilu. Iran tidak terintimidasi oleh ancaman dan tidak gentar menghadapi unjuk kekuatan,” tulis Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, dalam sebuah unggahan di X.
Gharibabadi mengaku terkejut dengan klaim tersebut. Ia menegaskan bahwa justru Washington-lah yang mengalami kekalahan dalam upayanya memaksakan kehendak atas jalur strategis tersebut.
“Terimalah kenyataan ini sekali dan untuk selamanya: sejauh ini, Anda telah mengalami kekalahan serius dan strategis. Selat Hormuz telah menjadi milik Iran, saat ini merupakan milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran; selat ini hanya akan ditutup atau dibuka kembali atas perintah Iran,” kata diplomat tersebut.
“Dan selama Anda menolak mengakui kenyataan mengenai kekalahan Anda dan terus larut dalam khayalan, Iran akan terus memberlakukan blokade.”
Iran telah berjanji untuk tetap menutup Selat Hormuz hingga tuntutan-tuntutannya dipenuhi.
Sebelumnya pada Agustus, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (Supreme National Security Council/SNSC) mensyaratkan pembukaan kembali jalur perairan tersebut dengan terpenuhinya sejumlah tuntutan, antara lain penghentian permanen agresi Amerika Serikat terhadap Iran dan sekutu-sekutunya di kawasan, pencabutan blokade laut AS yang dianggap ilegal serta seluruh sanksi terhadap Republik Islam, pengembalian aset-aset Iran yang dibekukan, dan pembayaran kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat agresi tersebut.


