Tehran, Purna Warta – Sebuah laporan menyebutkan bahwa Angkatan Laut Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memaksa sebuah kapal tanker Amerika yang berusaha melintasi Selat Hormuz secara ilegal—meskipun ada pembatasan dari Iran—untuk berbalik arah.
“Beberapa jam sebelumnya, sebuah kapal tanker minyak Amerika mencoba melintasi Selat Hormuz setelah mematikan sistem pelacaknya,” demikian isi laporan tersebut.
“Namun, setelah respons cepat dan tegas dari Angkatan Laut IRGC, termasuk tembakan peringatan yang diarahkan ke kapal itu, tanker tersebut dipaksa berhenti dan mundur,” tambah laporan tersebut.
Sebagai tanggapan, pasukan Amerika disebut melepaskan tembakan ke area terbuka di dekat kota pelabuhan Bandar Abbas. Sumber tersebut menambahkan bahwa laporan sebelumnya mengenai suara ledakan yang terdengar di kawasan itu berkaitan dengan insiden tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah adanya laporan tentang suara ledakan yang terdengar dari arah wilayah timur kota tersebut.
Iran menutup Selat Hormuz bagi musuh-musuhnya dan sekutu mereka setelah dimulainya gelombang agresi terbaru Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap Republik Islam Iran pada 28 Februari.
Iran mulai menerapkan pengawasan yang jauh lebih ketat setelah Donald Trump mengumumkan blokade ilegal terhadap kapal dan pelabuhan Iran sebagai kelanjutan dari agresi tersebut dan sebagai pelanggaran terhadap ketentuan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan sendiri oleh Trump.
Angkatan Laut IRGC telah berjanji untuk melaksanakan arahan “bersejarah” dari Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, terkait Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Melalui arahan tersebut, Ayatollah Khamenei menegaskan bahwa pihak asing yang memiliki “niat jahat” terhadap Teluk Persia tidak memiliki tempat di kawasan itu “kecuali di dasar perairannya.”
Pada 20 Mei lalu, otoritas Iran yang mengendalikan Selat Hormuz menetapkan zona pengawasan jalur perairan tersebut di Teluk Persia.
Zona pengelolaan itu didefinisikan sebagai “garis yang menghubungkan Gunung Mubarak di Iran dengan Fujairah selatan di Uni Emirat Arab di sisi timur selat, hingga garis yang menghubungkan ujung Pulau Qeshm di Iran dengan Umm Al Quwain di Uni Emirat Arab di sisi barat selat.”
Sejauh ini, Angkatan Laut IRGC telah mengeluarkan izin pelayaran bagi puluhan kapal untuk melintasi jalur perairan tersebut sesuai dengan instruksi Republik Islam Iran.


