Teheran, Purna Warta – Iran tidak terburu-buru untuk memasuki perundingan yang tidak bijaksana mengenai program nuklirnya, kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Berbicara kepada wartawan di sela-sela pertemuan dengan para duta besar asing di Teheran pada hari Sabtu, Araqchi mengatakan Iran sedang mengevaluasi waktu, lokasi, format, dan pengaturan untuk setiap negosiasi di masa mendatang serta jaminan yang diperlukan.
Baca juga: Presiden Iran Puji Persatuan Nasional Iran Selama Perang Israel
Meskipun Iran tidak terburu-buru untuk memasuki perundingan yang tidak bijaksana, Iran tidak akan melewatkan kesempatan apa pun untuk memenuhi kepentingan bangsa Iran, tambah menteri luar negeri tersebut.
“Kami secara cermat menilai kondisi dan mengevaluasi semua aspek. Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan kapan pun dan di mana pun yang akan menjamin kepentingan rakyat Iran,” katanya.
Araqchi menekankan bahwa pintu diplomasi tidak pernah tertutup rapat. “Diplomasi dapat dijalankan dan mencapai tujuan melaluinya dalam segala situasi. Namun, kami melakukannya dengan hati-hati dan percaya diri.”
Dalam wawancara terbaru dengan Le Monde awal pekan ini, Araqchi mengatakan bahwa agar perundingan mengenai program nuklir Teheran dapat dimulai kembali, AS harus dijamin tidak akan mengambil tindakan militer di tengah negosiasi.
Sementara rezim Zionis melancarkan perang agresi terhadap Iran pada 13 Juni dan menyerang wilayah militer, nuklir, dan permukiman Iran selama 12 hari, AS turun tangan dan melancarkan serangan militer terhadap tiga lokasi nuklir di Natanz, Fordow, dan Isfahan, Iran, pada 22 Juni.
Baca juga: Anggota Parlemen Iran Ajukan RUU untuk Perkuat Angkatan Bersenjata Hadapi Konfrontasi dengan Israel
Pasukan militer Iran melancarkan serangan balasan yang dahsyat segera setelah agresi tersebut. Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam melancarkan 22 gelombang serangan rudal balasan terhadap rezim Zionis sebagai bagian dari Operasi Janji Sejati III yang menimbulkan kerugian besar di berbagai kota di wilayah pendudukan.
Selain itu, sebagai tanggapan atas serangan AS, angkatan bersenjata Iran meluncurkan serangkaian rudal ke Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, pangkalan militer Amerika terbesar di Asia Barat.
Gencatan senjata yang mulai berlaku pada 24 Juni menghentikan pertempuran.


