Mengapa Netanyahu Memicu Ketegangan Diplomatik dengan UEA dengan Membocorkan Rahasia Terkait Kunjungan Tersebut?

Terungkap

Abu Dhabi, Purna Warta – Kunjungan rahasia Benjamin Netanyahu ke Uni Emirat Arab selama perang dengan Iran semula direncanakan tetap tersembunyi. Namun, menurut laporan media berbahasa Ibrani, persaingan politik dan konflik antar faksi membuat kantor perdana menteri Israel membocorkan rahasia UEA terkait masalah tersebut.

Channel 12 televisi rezim Zionis dalam sebuah laporan mengulas polemik kunjungan Benjamin Netanyahu, perdana menteri rezim Zionis, ke Uni Emirat Arab pada masa perang dengan Iran.

Menurut laporan tersebut, kantor Netanyahu mengetahui rencana kunjungan mantan perdana menteri Naftali Bennett ke UEA dan khawatir hal itu dapat memengaruhi jalannya pemilu mendatang, mengingat dalam enam bulan ke depan arena politik Israel kemungkinan kembali menghadapi pemilu dini.

Kantor Netanyahu meyakini bahwa apabila rencana kunjungan Bennett ke UEA dan sambutan pihak Emirat terhadapnya dipublikasikan, maka popularitas Bennett akan meningkat. Karena itu, kantor Netanyahu pada Rabu lalu mengonfirmasi bahwa Netanyahu telah melakukan perjalanan ke UEA pada hari-hari awal perang dengan Iran.

Channel 12 menyebut bahwa apabila kunjungan Bennett diumumkan, publik Israel akan menganggap bahwa Bennett lebih diterima oleh pihak Emirat dibanding Netanyahu. Sebab, Netanyahu sendiri melakukan kunjungan secara rahasia selama masa perang. Oleh karena itu, kantor Netanyahu akhirnya mengonfirmasi bahwa Netanyahu telah mengunjungi UEA dan bertemu dengan Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, presiden negara tersebut, pada hari-hari awal perang dengan Iran.

Mantan kepala kantor Netanyahu bahkan menegaskan bahwa Netanyahu disambut “layaknya seorang raja” di UEA.

Media Ibrani tersebut menambahkan bahwa Kementerian Luar Negeri UEA membantah kunjungan Netanyahu dan sejumlah pejabat militer serta keamanan Israel ke UEA. Pihak Emirat menegaskan bahwa klaim mengenai pertemuan tidak resmi tidak dapat dianggap benar selama belum ada pernyataan resmi dari otoritas UEA.

Channel tersebut melanjutkan bahwa Abu Dhabi secara tegas meminta agar rincian pertemuan semacam itu tetap dirahasiakan. Namun, konfirmasi publik mengenai pertemuan tersebut memicu ketegangan diplomatik di antara kedua pihak.

Para pengamat menilai bahwa keputusan membocorkan kunjungan itu bukan dilandasi alasan diplomatik, melainkan akibat persaingan politik internal dan upaya menyerang Bennett secara politik.

Berdasarkan laporan jaringan televisi itu, dua sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa Bennett berencana mengunjungi UEA dan bertemu pejabat tinggi negara itu. Di sisi lain, Netanyahu menolak dipublikasikannya kunjungan Bennett karena kunjungannya sendiri ke UEA dilakukan secara diam-diam.

Peristiwa ini terjadi pada saat yang sangat sensitif bagi Netanyahu di Palestina pendudukan, terutama ketika wacana pemilu dini semakin menguat. Dalam situasi tersebut, Bennett dianggap sebagai rival politik utama Netanyahu.

Hasil jajak pendapat Channel 11 televisi Israel menunjukkan bahwa kemungkinan koalisi Bennett dengan Yair Lapid, pemimpin oposisi, dapat membentuk aliansi yang mampu bersaing dengan Partai Likud pimpinan Netanyahu. Dalam pemilu sebelumnya, Partai Likud memperoleh 25 kursi, sementara partai “Together” yang merupakan gabungan pendukung Bennett dan Lapid juga meraih 25 kursi.

Media tersebut pada akhirnya menegaskan bahwa isu pembocoran kunjungan Netanyahu sebenarnya merupakan “ledakan politik” di Palestina pendudukan. Netanyahu selama ini menganggap “Perjanjian Abraham” dan hubungan dengan negara-negara Arab Teluk sebagai salah satu pencapaian diplomatik terpentingnya.

Karena itu, munculnya kesan bahwa Bennett juga dapat dengan mudah mengunjungi UEA, sementara kunjungan Netanyahu harus dilakukan secara rahasia, dinilai dapat merugikan Netanyahu secara politik dan mempertanyakan salah satu klaim keberhasilannya di bidang kebijakan luar negeri, seolah-olah Netanyahu adalah sosok politik yang lemah.

Situasi menjelang pemilu semakin memperbesar dampak isu tersebut. Oleh sebab itu, kantor Netanyahu memutuskan untuk membocorkan kunjungan tersebut dengan mempertimbangkan seluruh faktor tadi.

Naftali Bennett, politikus sayap kanan Israel, menjabat sebagai perdana menteri rezim Zionis dari Juni 2021 hingga Juni 2022. Ia berhasil mengakhiri 12 tahun masa pemerintahan berkelanjutan Benjamin Netanyahu melalui pembentukan koalisi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat beragam, yang terdiri dari partai-partai kanan, kiri, dan moderat.

Setelah pembubaran pemerintahan koalisinya pada 2022, Bennett untuk sementara meninggalkan dunia politik, namun ia tetap dianggap sebagai salah satu tokoh cadangan dan figur penting kubu kanan dalam struktur politik Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *