Al-Quds, Purna Warta – Situs Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa militer pendudukan Israel tengah menghadapi krisis sumber daya manusia yang parah dan belum pernah terjadi sebelumnya, akibat meningkatnya ketergantungan pada pasukan cadangan serta menurunnya komitmen terhadap wajib militer, khususnya di tengah berlanjutnya perang di berbagai front.
Data menunjukkan bahwa krisis ini semakin memburuk seiring berlanjutnya pengecualian wajib militer bagi sejumlah kelompok, terutama kaum Haredi (Yahudi ultra-Ortodoks), yang menyebabkan beban semakin besar dipikul oleh tentara reguler dan pasukan cadangan.
Menurut kesaksian lapangan yang dikutip media tersebut, para tentara cadangan menjalani penugasan militer berulang kali hingga mencapai ratusan hari dinas setiap tahun. Kondisi ini menyebabkan kelelahan fisik dan psikologis, penurunan kemampuan operasional, serta gangguan terhadap kehidupan keluarga dan pekerjaan para tentara.
Para komandan lapangan juga mengakui adanya kelelahan luas di dalam unit-unit militer serta meningkatnya kesulitan dalam memenuhi panggilan mobilisasi pasukan cadangan.
Krisis ini terjadi bersamaan dengan perdebatan politik internal mengenai undang-undang wajib militer dan pengecualian bagi kaum Haredi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dituduh berupaya meloloskan legislasi yang menyeimbangkan kepentingan koalisi politik dengan tekanan keamanan, sementara lembaga keamanan Israel memperingatkan adanya kekurangan besar jumlah personel militer yang dapat mengancam kesiapan tempur tentara Israel.


