Beirut, Purna Warta – Harian Lebanon Al-Akhbar menulis bahwa meskipun masih terlalu dini untuk menilai kemungkinan kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat, kepanikan dan manuver Tel Aviv menunjukkan bahwa rezim tersebut sangat takut terhadap dampak keamanan dan geopolitik dari kesepakatan tersebut terhadap dirinya sendiri.
Menurut laporan surat kabar Lebanon Al-Akhbar dalam sebuah artikelnya menulis bahwa rezim Zionis semakin menunjukkan kekhawatirannya setelah bocornya informasi mengenai rancangan nota kesepahaman (MoU) yang sedang disusun antara Washington dan Teheran. Tel Aviv khawatir bahwa kesepakatan potensial itu justru akan berubah menjadi titik kelemahan strategis bagi Israel.
Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran dengan tujuan menjatuhkan pemerintahan Iran kini disebut sedang memasuki tahap akhir. Namun hasil terpenting dari perang tersebut justru dianggap sebagai semakin kokohnya pemerintahan Iran, serta menguatnya posisi strategis, kekuatan, dan pengaruh Iran di tingkat regional maupun internasional.
Dalam analisis yang diterbitkan surat kabar Ibrani Yedioth Ahronoth, tampak jelas kekhawatiran mendalam Israel terkait bocornya informasi tentang rancangan nota kesepahaman yang sedang dibahas antara Washington dan Teheran. Lingkaran pengambil keputusan di Tel Aviv khawatir bahwa kesepakatan tersebut tidak akan menjamin pembongkaran program nuklir Iran sebagaimana yang diinginkan Israel, tidak membatasi program rudal balistik Iran, dan tidak menghentikan aktivitas sekutu regional Iran.
Menurut Al-Akhbar, kekhawatiran ini hanya sebagian kecil dari gambaran yang lebih besar terkait perang Iran. Dampak strategis negatif perang tersebut terhadap Israel — termasuk penguatan kembali posisi Iran di kawasan, melemahnya daya gentar Israel, hingga kemungkinan penarikan Amerika Serikat dari kawasan di masa depan — dinilai dapat jauh lebih luas dan mendalam daripada yang diungkapkan saat ini.
Al-Akhbar menambahkan bahwa meskipun masih terlalu dini untuk berbicara tentang akhir perang atau tercapainya kesepakatan final, dan belum memungkinkan memberikan penilaian menyeluruh mengenai keuntungan serta kerugian semua pihak, tanda-tanda kecemasan Israel mulai tampak di berbagai level. Kekhawatiran itu paling menonjol dalam beberapa poin berikut:
Pertama: Celah-celah keamanan
Kekhawatiran utama Israel berfokus pada klausul-klausul yang dihilangkan dari kesepakatan. Draft yang beredar tidak mewajibkan Teheran membongkar proyek nuklirnya sebagaimana yang diinginkan Tel Aviv. Sebaliknya, berdasarkan formula yang berlaku, Iran masih diperbolehkan menyimpan uranium yang diperkaya hingga 60 persen di wilayahnya sendiri.
Meski terdapat laporan bahwa Iran secara awal bersedia memindahkan uranium tersebut ke luar negeri, teks penyelesaian akhir saat ini menunda pembahasan isu tersebut ke putaran negosiasi berikutnya.
Hal yang sama juga berlaku untuk isu rudal balistik dan drone yang sepenuhnya dihapus dari teks saat ini dengan alasan akan dibahas pada tahap berikutnya.
Sumber-sumber Zionis meyakini bahwa draft kesepakatan saat ini tidak membatasi aktivitas sekutu regional Iran, khususnya Hizbullah, Ansarullah Yaman, dan kelompok-kelompok perlawanan Irak.
Selain itu, draft tersebut juga menuntut penghentian tindakan permusuhan di seluruh front, termasuk front Lebanon. Hal ini secara efektif berarti membatasi kebebasan Israel untuk melakukan agresi terhadap Lebanon, yang oleh lingkaran keamanan Israel disebut sebagai “hasil strategis yang katastrofik”.
Kedua: Penguatan kembali posisi Iran dan perubahan geopolitik
Kekhawatiran Israel melampaui aspek teknis kesepakatan dan menyentuh dampak geopolitiknya.
Meskipun Amerika Serikat menolak usulan Teheran mengenai penerapan kedaulatan baru di Selat Hormuz, para pengambil keputusan di Tel Aviv khawatir bahwa setiap bentuk fleksibilitas Amerika dalam negosiasi akan dianggap sebagai pengakuan tidak langsung terhadap kemampuan Iran memengaruhi keamanan Selat Hormuz.
Hal itu dinilai akan memperkuat posisi regional Iran dan menjadikannya aktor yang tidak bisa diabaikan dalam persamaan keamanan dan ekonomi kawasan.
Selain itu, pembebasan sebagian atau seluruh aset Iran yang dibekukan di luar negeri akan memberi Teheran likuiditas finansial yang memungkinkannya mengatasi dampak ekonomi perang dan sanksi, sekaligus melanjutkan dukungan terhadap sekutu-sekutunya di kawasan. Kondisi tersebut dipandang akan melipatgandakan tingkat ancaman terhadap Israel.
Ketiga: Isolasi Israel
Poin ini disebut sebagai kekhawatiran paling dalam, paling berpengaruh, sekaligus paling berbahaya bagi Israel dalam jangka panjang.
Proses negosiasi yang dilakukan Amerika Serikat melalui mediasi Pakistan dan Qatar berlangsung tanpa keterlibatan Tel Aviv dalam pembahasan-pembahasan utama. Hal ini menunjukkan perubahan posisi Israel dari “mitra strategis” menjadi sekadar “alat tekanan” yang digunakan bila diperlukan, lalu diabaikan ketika kesepakatan mulai mendekati tahap akhir.
Situasi ini tidak hanya berarti hilangnya posisi strategis Israel, tetapi juga membuka kemungkinan lahirnya kesepakatan-kesepakatan regional besar yang bertentangan dengan kepentingan Tel Aviv.
Pada saat yang sama, Israel mungkin tidak lagi memiliki kemampuan untuk menggunakan hak veto atau bahkan mengurangi dampak dari kesepakatan-kesepakatan tersebut demi menjaga kepentingannya sendiri.
Di akhir artikelnya, Al-Akhbar menegaskan bahwa proses negosiasi antara Washington dan Teheran saat ini pada dasarnya hanyalah penundaan berbagai poin perselisihan utama ke tahap negosiasi berikutnya.
Meski terdapat tanda-tanda yang relatif menjanjikan mengenai keinginan kedua pihak mencapai kesepakatan dan saling memberi konsesi, masih terlalu dini untuk berbicara secara pasti tentang kesepakatan permanen atau pengaturan jangka panjang yang stabil.
Karena itu, kalangan keamanan Israel meyakini bahwa tercapainya kesepakatan final dalam waktu dekat masih sangat sulit.
Mereka menilai bahwa setiap kesepakatan nyata membutuhkan konsesi besar dari Iran yang saat ini tampak sulit diwujudkan, sehingga isu-isu sensitif kemungkinan akan terus ditunda ke tahap-tahap selanjutnya.
Namun paradoks yang memicu kekhawatiran Tel Aviv adalah bahwa penundaan tersebut justru bisa melemahkan posisi tawar Amerika Serikat seiring berjalannya waktu.
Setelah negosiasi yang panjang, pemerintah Amerika mungkin akan berada pada posisi yang semakin sulit untuk menggunakan opsi tekanan militer. Hal ini dianggap memberi keuntungan waktu kepada Iran dan membuka peluang bagi Teheran untuk secara bertahap menghindari komitmen-komitmen berat yang diminta darinya.


