Media Israel: Jurnalis Washington Post Menjadi Korban Kekerasan Para Pemukim Ilegal Di Tepi Barat

Jurnalis Washington Post

Purna Warta – Jurnalis Washington Post, Heidi Levine, menjalani operasi pada jarinya hari Sabtu lalu. Jarinya hampir putus setelah ia menjadi korban kekerasan oleh para pemukim ilegal di Tepi Barat sehari sebelumnya. Levine mengecam Perdana Menteri Benjamin Netanyahu karena meragukan insiden serangan tersebut.

Dari ranjang rumah sakitnya, Heidi Levine menyebut pernyataan Perdana Menteri yang mengklaim bahwa para pemukim justru berusaha membantunya sebagai “kebohongan besar dan penghinaan yang luar biasa.”

Serangan itu terjadi di dekat desa Abu Falah, sebelah utara Ramallah. Sekitar 80 pemukim turun dari sebuah bukit menuju kebun zaitun berteras. Mereka mulai melemparkan batu serta memukuli warga Palestina, para aktivis dan juga Levine.

Jurnalis Washington Post itu menuturkan bahwa para pelaku menendangi saya selama sekitar 10 menit, sementara saya berusaha mempertahankan kamera dan tas saya.” Ia mengatakan bahwa helm dan rompi pelindung yang ia kenakan dengan tulisan “PRESS” kemungkinan telah menyelamatkannya dari cedera yang lebih parah.

Levine mengatakan serangan itu berakhir setelah rekan-rekannya yang merupakan warga Palestina turun tangan. Setelah itu, tim medis segera membawanya dengan ambulans ke sebuah klinik di Abu Falah, lalu ke rumah sakit di Ramallah. Ia kemudian dipindahkan ke Rabin Medical Center di wilayah pendudukan Israel.

Dalam rekaman, terlihat sang jurnalis foto sempat terbaring di tanah sementara sejumlah orang bertopeng memukulinya dengan tongkat, sebelum akhirnya mereka melarikan diri dari lokasi kejadian.

Putrinya, Ashley Milner, mengatakan kepada Associated Press pada hari Sabtu bahwa salah satu jari di tangan kiri ibunya terluka hingga ke tulang, bahkan tendonnya terlihat. Ia menambahkan bahwa Levine juga mengalami patah tulang rusuk, beberapa ruas tulang belakang yang patah serta luka robek di sekujur tubuhnya.

Pihak Rabin Medical Center, tempat Levine dirawat, menyatakan pada Sabtu sore bahwa kondisinya kini cukup stabil setelah menjalani operasi.

Dalam sebuah wawancara dari ranjang rumah sakit, Levine menceritakan serangan tersebut kepada Channel 12. Ia menuturkan bahwa begitu tiba di lokasi, ia melihat pria-pria bertopeng yang mengenakan *tzitzit* (pakaian Yahudi)”. Pada saat itulah, ujarnya, ia diserbu oleh sekelompok pria yang berjumlah setidaknya 20 orang.

“Mereka menjatuhkan saya ke tanah, lalu mulai menendang dan memukuli saya dengan tongkat,” ungkapnya.

“Dua dokter dan seorang perawat menduga bahwa saya sebenarnya ditusuk di bagian bokong dan sekitarnya, mungkin dengan pisau,” lanjut Levine. “Rekan-rekan lain memberi tahu saya bahwa mereka bahkan melihat para pemukim memasangkan paku pada tongkat-tongkat mereka.”

“Mereka merenggut kamera dari bahu saya hingga talinya putus. Mereka sempat membuatku berdiri, tapi bukan untuk menolong, melainkan untuk kembali merampok” tambah Jurnalis Washington Post tersebut.

Kemudian, menurutnya, para penyerang kembali menjatuhkannya ke tanah dan terus memukulinya.

“Saya pikir saya tidak akan selamat,” kenangnya.

Ia mengecam Netanyahu karena melontarkan pernyataan bahwa para pemukim tersebut justru berusaha membantunya berdiri. Sebelumnya, kantor Netanyahu mengeluarkan pernyataan pada Jumat malam yang menyebutkan bahwa ia “diduga diserang” dan fakta mengenai serangan tersebut “belum jelas serta masih dalam penyelidikan.”

“Itu adalah kebohongan besar dan penghinaan yang luar biasa,” ujar Levine.

Menurutnya, orang-orang Palestina justru berusaha menjauhkan para pemukim tersebut darinya; jika bukan karena mereka, “saya mungkin sudah tewas.”

“Perdana Menteri! mungkin coba lihat kembali video-video itu, ya? Perhatikan baik-baik dengan teliti, karena Anda akan melihat bahwa tidak ada seorang pun yang berusaha menolong saya, kecuali rekan-rekan saya,” tegasnya. “Saya tidak akan membiarkan peristiwa kemarin menghentikan langkah saya,”

“Mereka mencuri kamera, peralatan dan dokumen saya, tetapi mereka tidak bisa merampas komitmen saya.”

Sebelumnya, putri Levine mengungkapkan kekhawatiran bahwa cedera pada jari ibunya dapat “mengakhiri karier” sang ibu sebagai jurnalis foto, seraya menggambarkan luka-luka tersebut sebagai sesuatu yang “merusak hidup.”

“Dia merasa dikhianati. Sangat sulit bagi kami melihatnya dalam kondisi seperti ini, setelah puluhan tahun ia meliput berbagai perang dan konflik di seluruh dunia,” ujar Milner kepada lembaga penyiaran publik Kan.

Milner juga mengecam “fitnah di media sosial, di mana orang-orang menuding ibu saya sebagai seorang pendukung kelompok kiri dan pantas menerima apa yang terjadi padanya. Padahal, ibu saya hanya datang untuk menjalankan tugasnya sebagai jurnalis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *