Tehran, Purna Warta – Seorang mata-mata terpidana yang dilatih oleh badan intelijen Israel, Mossad, di Nepal dan secara sistematis menyalurkan informasi sensitif dari institusi militer serta siber Iran kepada Israel telah dieksekusi, demikian diumumkan oleh Otoritas Kehakiman Iran.
Menurut dokumen pengadilan, Ehsan Afrashteh pertama kali menjalin kontak dengan agen Mossad di Turki.
Setelah menilai hubungan keluarga Afrashteh dengan institusi sensitif negara, petugas Mossad memerintahkannya kembali ke Iran dan berupaya memperoleh pekerjaan di organisasi sensitif. Meskipun pada akhirnya gagal menyusup ke lembaga tersebut, Mossad membayarnya 1.000 euro sebelum kepulangannya guna membangun kepercayaan.
Pada awalnya, Afrashteh beroperasi dengan kedok sebagai pengemudi layanan transportasi daring sambil menjalankan perintah Mossad. Setelah menerima pelatihan dari Mossad, ia mendokumentasikan lokasi-lokasi target, merekam area sekitar Kementerian Intelijen, menghadiri pertemuan publik, dan memberikan profil kepribadian sejumlah individu kepada pengendalinya.
Ia kemudian memperoleh posisi sebagai pakar keamanan siber di sebuah perusahaan yang berafiliasi dengan institusi militer. Setelah diterima bekerja, ia segera membocorkan rincian internal kepada Mossad, menandai fase baru dalam kerja samanya. Ia menyerahkan identitas pegawai, struktur organisasi, dan misi perusahaan kepada badan intelijen Israel tersebut.
Terpidana itu menjadi fasih berbahasa Inggris, Prancis, dan Ibrani selama menjalankan aktivitas spionase. Nama sandi operasionalnya di Mossad adalah “James”. Analisis teknis terhadap surel yang berhasil dipulihkan menunjukkan bahwa ia bertukar setidaknya empat hingga lima pesan terenkripsi setiap bulan dengan para pengendalinya, belum termasuk panggilan suara. Lebih dari 300 pesan dipertukarkan di antara mereka.
Afrashteh melakukan perjalanan ke Nepal, tempat ia bertemu petugas Mossad di Kathmandu dan kemudian dipindahkan ke sebuah rumah aman di Pokhara. Tiga agen Mossad menemaninya dalam penerbangan melalui Uni Emirat Arab. Selama berada di Pokhara, ia tidak diizinkan mengakses laptop dan telepon pribadinya. Di sana, ia menerima pelatihan lanjutan secara langsung serta misi operasional baru.
Saat kembali ke Iran melalui Istanbul, ia langsung ditangkap setelah turun dari pesawat di Bandara Internasional Imam Khomeini. Otoritas kehakiman sebelumnya telah mengeluarkan perintah penahanannya.
Meskipun sempat berupaya menyesatkan penyidik, bukti forensik dan komunikasi yang dipulihkan tidak menyisakan keraguan mengenai aktivitas spionasenya. Afrashteh akhirnya mengakui perbuatannya setelah diperlihatkan bukti-bukti tersebut.
Penyelidikan terhadap Afrashteh dipicu oleh sejumlah tanda mencurigakan, termasuk peningkatan finansial yang tidak wajar, kontak dengan individu Yahudi, upaya mempelajari bahasa Ibrani, perdagangan mata uang kripto melalui bursa Asia Tenggara, serta perjalanan mencurigakan ke Turki dan Uni Emirat Arab.
Setelah penangkapannya, penyelidikan oleh otoritas kehakiman, dan pengakuannya sendiri, Afrashteh diadili atas tuduhan spionase dan kerja sama intelijen dengan rezim Israel dengan imbalan kompensasi finansial.
Hukuman mati dilaksanakan pada dini hari Rabu setelah seluruh prosedur hukum diselesaikan.
Sejak dimulainya perang agresi pertama Amerika Serikat-Israel terhadap Iran pada 13 Juni tahun lalu, pasukan keamanan Iran telah menangkap puluhan orang yang bekerja untuk pihak musuh.
Kepala Otoritas Kehakiman Iran, Gholam Hossein Mohseni-Ejei, telah menyerukan kepada pengadilan agar segera menangani kasus-kasus spionase dan menghindari proses birokrasi yang berkepanjangan.


