Tehran, Purna Warta – Menurut laporan pemberitaan di Iran, sejumlah pemberitaan menyebut Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev berencana menjadi tuan rumah peringatan ke-70 konferensi rabbi-rabbi Eropa. Acara yang dikabarkan akan dihadiri hampir 500 rabbi dari berbagai belahan dunia itu dijadwalkan berlangsung pada 4–6 November (13–15 Aban) di Baku. Media Yahudi dan Zionis menyebut kemungkinan perwakilan resmi rezim Israel juga hadir.
Baca juga: Sabra dan Shatila: 43 Tahun Lalu dan 43 Jam Horor Israel yang Guncang Dunia
Pertemuan yang bertajuk “Konvensi Peringatan Ke-70 Organisasi Keagamaan Yahudi Dunia” ini akan membahas tema seperti perluasan “Perjanjian Abraham” — perjanjian yang lima tahun lalu diwujudkan pada masa pemerintahan Trump yang membuka jalan normalisasi antara Israel dan empat negara Arab — serta isu kebebasan beragama dan pemerangan antisemitisme di Eropa. Penyelenggara acara adalah “Union of Orthodox Rabbis of Europe” yang berdiri sejak 1956 dan kini menaungi lebih dari 700 pemimpin keagamaan Yahudi dari komunitas-komunitas Eropa.
Ini adalah pertama kalinya kongres semacam ini digelar di sebuah negara Muslim dengan tujuan terang-terangan mempromosikan yahudisasi Zionis; langkah yang diprediksi tidak hanya menimbulkan sensitivitas di dalam Azerbaijan tetapi juga memicu reaksi negatif di kalangan umat Islam, pendukung Palestina, dan bangsa-bangsa merdeka.
Reaksi Tokoh Iran dan Kekhawatiran terhadap Tujuan Kongres
Ali Akbar Velayati, penasihat urusan internasional Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, menyatakan penyelenggaraan konferensi rabbi Zionis di negara Muslim adalah “sangat mengejutkan dan memprihatinkan”. Ia menilai tindakan itu “anti-Islam” dan berharap laporan-laporan mengenai acara tersebut tidak benar. Velayati menilai ini merupakan pelanggaran baru oleh pemerintahan Azerbaijan dan menegaskan bahwa tujuan utama kongres tampak mendorong perluasan Perjanjian Abraham dan menarik Azerbaijan serta negara-negara Asia Tengah Muslim lainnya ke arah normalisasi semacam itu.
Tujuan Ganda Rezim Israel dari Kongres di Baku
Laporan tersebut merinci beberapa tujuan rezim Israel menyelenggarakan kongres di Baku:
Memperluas Perjanjian Abraham dan Menormalisasi Hubungan dengan Tel Aviv
Salah satu tujuan nyata adalah mendorong normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Muslim, menggunakan pembungkus keagamaan untuk melancarkan masuknya Azerbaijan — dan selanjutnya negara-negara Asia Tengah — ke orbit Perjanjian Abraham.
Penetrasi Budaya dan Keagamaan yang Halus (Soft Power)
Israel telah lama berinvestasi pada pengaruh lunak. Menggelar kongres keagamaan di negara Muslim bertujuan memberi legitimasi pada aspek keagamaan Zionis di wilayah Islam, serta mengubah persepsi publik sehingga kehadiran institusi Yahudi resmi terlihat “alami” dan sebagai tanda toleransi agama.
Baca juga: Iran Bersama Doha, Tolak ‘Solusi Dua Negara’ untuk Isu Palestina
Eksploitasi Geopolitik Posisi Azerbaijan
Posisi geopolitik Azerbaijan yang berbatasan dengan Iran, Rusia, dan Turki membuatnya menjadi basis strategis bagi Israel. Memperluas kerja sama keamanan dan intelijen ke ranah budaya/keagamaan memperkaya opsi pengaruh Tel Aviv di kawasan.
Menampilkan Legitimasi Internasional
Di tengah krisis legitimasi, Israel mencari panggung internasional untuk menunjukkan kehadirannya. Tuan rumah negara Muslim bagi konferensi yang melibatkan elemen Zionis dianggap sebagai kemenangan propaganda.
Mengirim Sinyal ke Negara-Negara Muslim Asia Tengah
Baku sebagai tuan rumah dikirimkan sebagai contoh bahwa jalan normalisasi terbuka, memotivasi negara-negara seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan untuk mengikuti.
Dampak Merusak bagi Kawasan dan Dunia Islam
Penyelenggaraan kongres ini dipandang merongrong identitas Islam dan Syiah Azerbaijan. Perbedaan antara keyakinan mayoritas rakyat dan kebijakan pemerintah bisa memicu celah sosial-politik dan menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintahan. Israel melalui acara ini berupaya memperkuat pijakan di Kaukasus Selatan, memperluas pengaruh keamanan-intelijen yang sebelumnya sudah ada, dan menambahkan dimensi budaya-keagamaan pada kerja sama itu — langkah yang mengubah keseimbangan geopolitik kawasan dan menimbulkan ancaman terhadap dunia Islam.
Para pengamat menilai bahwa jika kongres semacam ini berjalan tanpa reaksi serius dari komunitas Muslim, hal itu bisa menjadi titik balik berbahaya bagi normalisasi kehadiran Zionis di negara-negara Muslim. Keberhasilan acara semacam ini berpotensi membuka jalan bagi kegiatan serupa di Asia Tengah dan beberapa negara Arab, melemahkan nilai-nilai Islam dan meretakkan solidaritas umat.
Potensi Memecah-belah dan Implikasi terhadap Solidaritas Pro-Palestina
Penyelenggaraan acara ini dinilai sebagai bentuk “pengkhianatan” terhadap prinsip dukungan bagi Palestina. Israel berusaha menampilkan bahwa bahkan negara-negara Muslim tidak menjadi penghalang bagi ambisinya. Kerja sama Azerbaijan di mata penulis merupakan upaya melemahkan legitimasi perlawanan Palestina dan menempatkan pendukung Palestina pada tekanan politik. Selain itu, bila negara-negara menyikapinya secara politik dengan sikap pasif sementara rakyat mengutuknya, hal itu dapat memperdalam jurang antara penguasa dan masyarakat sehingga memberi keuntungan bagi strategi “pecah-belah” oleh para pendukung Zionisme.
Penutup — Peringatan bagi Dunia Islam
Tulisan menutup dengan peringatan bahwa jika dunia Islam tetap bungkam, langkah-langkah serupa akan terus menyusup ke ranah sosial-budaya umat. Saat ini mendesak bagi bangsa dan negara-negara Muslim untuk bersuara, menjaga persatuan, dan bangkit melawan upaya-upaya normalisasi yang dinilai merusak masa depan Islam dan kehormatan umat.





