Tehran, Purna Warta – Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Eje’i, mengecam keras serangan teroris yang dilakukan oleh kelompok militan yang menamakan diri mereka Jaish al-Adl terhadap sebuah gedung pengadilan di kota Zahedan, Iran tenggara. Ia menegaskan bahwa aksi teror semacam ini jelas-jelas didalangi oleh Amerika Serikat.
Baca juga: Senator AS: Israel akan Taklukkan Gaza seperti yang dilakukan Sekutu di Tokyo dan Berlin
“Tidak diragukan lagi bahwa akar penyebab dan sumber kejahatan serta insiden teroris semacam ini adalah kekuatan-kekuatan arogan, dengan AS yang kriminal berada di garis depan,” kata Eje’i pada hari Senin (28 Juli 2025) saat menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya sejumlah warga Iran dalam serangan tersebut.
Ia menambahkan, “Amerika adalah pendukung utama kejahatan tak terkatakan yang dilakukan oleh Zionis di Gaza, serta otak dan arsitek dari berbagai kejahatan di seluruh dunia.”
Pejabat tinggi kehakiman ini juga memerintahkan wakilnya untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mendukung keluarga para korban serangan teroris di Zahedan.
Sedikitnya enam orang tewas dan dua puluh dua lainnya terluka dalam serangan teroris di Zahedan pada hari Sabtu. Pasukan keamanan Iran berhasil menumpas tiga penyerang dalam bentrokan yang terjadi setelahnya.
Provinsi Sistan dan Baluchestan, yang berbatasan dengan Pakistan, telah beberapa kali menjadi sasaran serangan teroris yang menargetkan warga sipil maupun pasukan keamanan dalam beberapa tahun terakhir.
Kelompok-kelompok teroris yang melakukan serangan terhadap kepentingan Iran di wilayah tenggara dan barat daya negara tersebut diyakini memiliki keterkaitan dengan badan intelijen asing.
Pada 26 Oktober tahun lalu, sepuluh anggota pasukan penegak hukum Iran gugur dalam sebuah serangan teroris di distrik Gohar Kuh, wilayah Taftan, provinsi Sistan dan Baluchestan.
Kelompok teroris yang menamakan dirinya Jaish al-Adl mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, yang merupakan salah satu serangan paling mematikan di provinsi itu dalam beberapa bulan terakhir.
Menanggapi perang genosida yang sedang berlangsung di Gaza oleh Israel, Eje’i menyatakan bahwa rasa malu yang mendalam dan abadi akan melekat pada semua pendukung dan pelindung rezim Zionis yang terkenal kejam dan kriminal, yang telah meninggikan penindasan dan kejahatan di Gaza ke tingkat yang paling parah.
“Rasa malu yang abadi dan tercatat dalam sejarah bagi negara-negara yang menyaksikan penderitaan rakyat dan anak-anak di Gaza, namun tetap melanjutkan hubungan dagang dan finansial mereka dengan rezim penjajah serta memasok bahan bakar, bahan mentah, dan produk industri kepada Zionis.”
“Dalam waktu yang sama, organisasi-organisasi internasional dengan sikap diam dan kelambanannya justru mendorong dan menyemangati para pembunuh Zionis untuk terus melakukan kejahatan yang lebih besar dari sebelumnya,” tegas kepala kehakiman Iran.
Setidaknya 59.821 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, telah gugur dan 144.851 lainnya terluka dalam serangan brutal Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023.
Baca juga: Hari yang Suram bagi Eropa’: Kesepakatan Dagang dengan AS Picu Kemarahan
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan pada bulan November lalu terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Urusan Militer Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang dilancarkannya di wilayah pesisir yang diblokade tersebut.


