Kekacauan dan Bencana Kesehatan di Suwayda setelah Serangan Teroris Jolani

golani

Damaskus, Purna Warta – Menurut laporan dari kantor berita setempat, yang mengutip media lokal dan wawancara medis, situasi di Suwayda wilayah mayoritas Druze tersebut masih memanas usai gelombang serangan minggu lalu yang dilakukan oleh kelompok teroris dukungan Julani. Intervensi militer dari rezim Zionis (Israel) turut memperburuk kondisi, dalam upaya mereka memanfaatkan kekacauan demi melanjutkan agenda destabilisasinya.

Baca juga: Tel Aviv–Damaskus: Dari Normalisasi Hubungan hingga Potensi Disintegrasi

Pemadaman Air dan Listrik, Rumah Sakit Penuh dengan Jenazah
Berdasarkan laporan tersebut, rumah sakit pemerintah dan swasta di Suwayda kini kewalahan akibat pemadaman air dan listrik, kekurangan alat medis dan obat-obatan dasar, serta peningkatan jumlah korban. Rumah sakit kini penuh dengan korban luka, dan jenazah-jenazah menumpuk di ruang jenazah dan bahkan di trotoar serta jalanan.

Sejak dimulainya serangan besar-besaran pada 13 Juli, situasi kesehatan memburuk secara drastis dan memicu ancaman lingkungan yang serius, terutama bagi pasien dengan luka berat atau penyakit kronis.

Operasi Bedah Tanpa Bius & Krisis Air di Rumah Sakit
Dr. Omar Adel Ubaid, Kepala Asosiasi Medis Suwayda, mengatakan dalam wawancara dengan Al-Araby Al-Jadeed bahwa RS Pusat Suwayda (RS Nasional) menanggung beban terberat. Rumah sakit tersebut bahkan sempat dikuasai oleh kelompok teroris selama satu hari penuh, menyebabkan kematian dan cedera di kalangan tenaga medis.

Ia menjelaskan bahwa jenazah telah menumpuk di rumah sakit selama enam hari dan menjadi sumber pencemaran besar. Banyak korban meninggal yang masih belum dapat dievakuasi dari rumah atau jalanan akibat kondisi keamanan. Ia memperingatkan bahwa setiap jenazah kini menjadi sumber infeksi.

Dalam delapan hari terakhir, sekitar 500 operasi telah dilakukan, termasuk amputasi dan operasi luka tembak, tanpa cukup fasilitas atau staf medis. Bahkan, semua 250 ranjang RS Nasional telah penuh, memaksa tim medis memilih pasien mana yang masih bisa dirawat dan yang harus dipulangkan.

Krisis Kesehatan Sistemik: Kekurangan Air, Listrik, dan Obat-Obatan
Dr. Ubaid menambahkan bahwa pasokan air bersih untuk keperluan medis hampir tidak tersedia karena sudah 15 hari wilayah tersebut tanpa air dan listrik. Sementara jalan menuju Damaskus dipenuhi kelompok bersenjata, sehingga transportasi pasien dan pengiriman obat-obatan vital terganggu total. Kementerian Kesehatan Suriah pun disebutkan gagal memberikan bantuan.

Dr. Obaida Abu Fakhr, dokter senior di RS Suwayda, menggambarkan penderitaan ekstrem yang mereka alami selama 10 hari terakhir. Ia menyatakan bahwa mereka terpaksa melakukan operasi terhadap anak-anak dan korban luka tanpa bius, dan sebagian operasi bahkan dilakukan di lorong rumah sakit.

Baca juga: Universitas Columbia Skors dan Pecat Mahasiswa Pro-Palestina

Ia juga mengatakan bahwa karena kekurangan dokter dan perawat, mereka terpaksa meminta bantuan staf non-medis untuk membantu operasi, yang tentu saja berisiko fatal.

Kesimpulan: Bencana Kemanusiaan yang Terus Memburuk
Kekacauan total terjadi di provinsi Suwayda. Rumah sakit tidak dapat menangani korban luka, jenazah menumpuk dan mencemari lingkungan, dan operasi darurat dilakukan dalam kondisi memprihatinkan — tanpa air, listrik, atau anestesi. Kondisi ini mengarah pada bencana kesehatan besar-besaran, sementara pemerintahan Julani dan intervensi asing memperparah penderitaan rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *