Berlin, Purna Warta – Menteri Luar Negeri Germany menyatakan keprihatinan mendalam atas berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon selatan dan menyerukan penghentian segera seluruh aktivitas militer guna mencegah situasi semakin memburuk.
Menurut laporan yang dikutip dari Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menyampaikan kekhawatiran serius terhadap berlanjutnya serangan Israel di wilayah selatan Lebanon.
Ia menegaskan bahwa seluruh pihak yang terlibat harus segera menghentikan operasi militer mereka.
“Untuk mencegah memburuknya situasi lebih lanjut, pihak-pihak yang terlibat harus segera menghentikan operasi militer dan kembali mematuhi perjanjian gencatan senjata,” ujarnya.
Serangan militer Israel di Lebanon selatan dilaporkan masih berlangsung, dengan sejumlah wilayah di kawasan tersebut terus menjadi sasaran serangan udara dan artileri.
Pernyataan Jerman ini muncul di tengah laporan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, baru-baru ini memerintahkan peningkatan operasi militer di Lebanon selatan.
Ketegangan antara Israel dan Lebanon terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Wilayah perbatasan menjadi lokasi pertukaran serangan yang hampir rutin antara militer Israel dan Hezbollah. Situasi tersebut telah menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta perpindahan penduduk dari desa-desa di sepanjang garis perbatasan.
Komunitas internasional, termasuk United Nations, berulang kali menyerukan penghormatan terhadap gencatan senjata dan perlindungan warga sipil. Misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon, UNIFIL, juga menyatakan keprihatinan atas meningkatnya aktivitas militer yang berisiko memicu konflik yang lebih luas di kawasan.
Sebelumnya, pemerintah Qatar juga mengecam serangan Israel ke Lebanon dan meminta masyarakat internasional meningkatkan tekanan diplomatik agar operasi militer dihentikan. Sejumlah negara Arab lainnya telah mengeluarkan pernyataan serupa yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas Lebanon dan mencegah perluasan konflik regional.
Di Lebanon sendiri, otoritas pemerintah dan lembaga kemanusiaan melaporkan bahwa ribuan warga telah mengungsi dari wilayah selatan akibat serangan yang berulang. Infrastruktur sipil, termasuk jalan, jaringan listrik, fasilitas kesehatan, dan bangunan permukiman di beberapa daerah perbatasan, dilaporkan mengalami kerusakan akibat konflik yang terus berlanjut.


