Beirut, Purna Warta – Menurut laporan Kantor Berita jaringan televisi Al Mayadeen, kementerian tersebut pada Kamis menyatakan bahwa 299 orang dirawat di rumah sakit dalam 24 jam terakhir, yang merupakan peningkatan harian terbesar sejak fase awal perang.
Baca juga: Pelapor Khusus PBB: “Dunia Telah Memberi Israel Lisensi untuk Menyiksa Warga Palestina”
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Kesehatan Israel menyebutkan bahwa total korban luka yang dirawat di rumah sakit sejak dimulainya perang terhadap Iran dan Lebanon telah mencapai 5.772 orang.
Kementerian tersebut juga menambahkan bahwa jumlah keseluruhan korban luka yang dirawat di rumah sakit Israel sejak 7 Oktober 2023 mencapai 81.184 orang, mencerminkan dampak luas konflik yang berlangsung selama hampir dua tahun terakhir.
Serangan Balasan dan Eskalasi Konflik
Laporan tersebut muncul di tengah serangan berkelanjutan yang dilancarkan Iran terhadap wilayah yang diduduki Israel, yang disebut sebagai respons terhadap serangan militer Israel dan Amerika Serikat yang dimulai pada 28 Februari.
Pada saat yang sama, Perlawanan Islam di Lebanon (Hizbullah) juga dilaporkan terus melancarkan serangan terhadap posisi Israel sebagai tanggapan atas operasi militer Israel di Lebanon yang kembali meningkat sejak awal Maret.
Tekanan Multi-Front
Sejumlah pengamat menilai bahwa Israel saat ini menghadapi tekanan keamanan di berbagai front secara bersamaan, termasuk di Gaza, Lebanon, serta meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Situasi tersebut tidak hanya meningkatkan jumlah korban luka, tetapi juga memperbesar tekanan terhadap sistem kesehatan, militer, dan perekonomian Israel, yang telah menghadapi lonjakan biaya perang dan gangguan aktivitas ekonomi.
Para analis memperingatkan bahwa jika konflik terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, jumlah korban luka dan kerugian material dapat meningkat secara signifikan, sekaligus memperdalam tekanan domestik terhadap pemerintah Israel.


