Teheran, Purna Warta – Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan pesawat tak berawak (drone) terhadap sebuah masjid di el-Fasher, Sudan, yang menewaskan lebih dari 70 warga sipil pada hari Jumat.
Baca juga: Utusan Iran untuk PBB: EU3 dan AS Bertanggung Jawab Penuh atas Pengabaian Resolusi 2231
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Minggu, Kementerian Luar Negeri mengecam serangan militer terhadap jamaah Sudan sebagai pelanggaran nyata terhadap aturan hukum humaniter internasional.
Menyampaikan simpati kepada para penyintas insiden tersebut dan mendoakan kesembuhan serta kesehatan bagi para korban luka, Kementerian menggarisbawahi perlunya penghentian segera serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur vital di Sudan.
Kementerian juga menekankan bahwa krisis yang sedang berlangsung di Sudan harus diselesaikan melalui dialog Sudan-Sudan, lapor situs web kementerian.
Lebih dari 70 orang tewas ketika Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter melancarkan serangan pesawat nirawak terhadap sebuah masjid di el-Fasher pada hari Jumat.
Kelompok paramiliter tersebut telah mengepung kota tersebut, yang merupakan ibu kota negara bagian Darfur Utara, sejak awal konflik.
Serangan hari Jumat tersebut merupakan kekerasan terbaru dalam perang saudara yang memasuki tahun ketiga antara tentara Sudan dan RSF.
Dalam laporan yang dirilis pada hari Jumat, Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) menyatakan bahwa kematian warga sipil dan kekerasan etnis meningkat secara signifikan seiring perang tersebut melewati dua tahun peringatannya pada paruh pertama tahun 2025.
Baca juga: Anggota Parlemen: Respons Iran terhadap Tekanan Akan Lebih Keras dari Sebelumnya
Tingkat kematian warga sipil di seluruh Sudan telah meningkat, menurut laporan tersebut, dengan 3.384 warga sipil meninggal dalam enam bulan pertama tahun ini, angka yang setara dengan 80 persen dari 4.238 kematian warga sipil sepanjang tahun 2024.
Sejak April 2023, perang Sudan telah menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan sekitar 12 juta orang mengungsi. PBB menggambarkannya sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan kelaparan yang melanda sebagian wilayah Darfur dan Sudan selatan.


