Tehran, Purna Warta – Seorang imam salat Jumat di Kabupaten Mirjaveh, wilayah perbatasan di tenggara Iran, gugur setelah menjadi sasaran serangan oleh orang-orang bersenjata tak dikenal pada Senin dini hari. Peristiwa tersebut memicu kecaman keras dari para pejabat setempat.
Mokhtar Mohsen Mobaraki, Gubernur Mirjaveh, mengatakan bahwa Molavi Mohammad Anvar Rigi, imam salat Jumat Sunni di Masjid Ali bin Abi Thalib di kota tersebut, diserang oleh orang-orang bersenjata tak dikenal pada Senin dini hari dan kemudian meninggal dunia akibat luka-luka serius yang dideritanya.
Mengecam apa yang disebutnya sebagai “aksi teroris”, Mobaraki mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan “upaya yang gagal untuk mengganggu keamanan, ketenangan, dan persatuan masyarakat Provinsi Sistan dan Baluchestan.”
Ia menyatakan bahwa aparat keamanan, penegak hukum, dan otoritas kehakiman tengah melakukan penyelidikan secara menyeluruh terhadap insiden tersebut. Menurutnya, “upaya untuk mengidentifikasi, menangkap, dan menghukum para pelaku kejahatan teroris yang membabi buta ini sedang dilakukan dengan tegas.”
Gubernur Mirjaveh juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang, waspada, dan menjaga persatuan. Ia meminta warga hanya memperoleh informasi mengenai insiden tersebut dari sumber-sumber resmi serta tidak memberi kesempatan kepada “musuh-musuh” untuk memanfaatkan tindakan kriminal semacam itu guna menebar perpecahan dan perselisihan di tengah masyarakat.
Menegaskan bahwa persatuan antara komunitas Syiah dan Sunni merupakan “aset yang sangat berharga,” Mobaraki mengatakan bahwa masyarakat Sistan dan Baluchestan selama ini selalu waspada terhadap berbagai konspirasi musuh. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan melemahkan solidaritas maupun keamanan wilayah itu.
Ali Kord, anggota parlemen Iran yang mewakili daerah pemilihan Khash, juga mengecam keras serangan tersebut dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Molavi Rigi, para ulama, para imam salat Jumat, para santri hauzah, serta seluruh masyarakat Provinsi Sistan dan Baluchestan.
Dalam pesannya, Kord menyebut pembunuhan tersebut sebagai “serangan teroris pengecut yang dilakukan oleh para kaki tangan kriminal.” Ia menambahkan bahwa “tindakan membabi buta dan tidak terhormat seperti ini tidak akan melemahkan tekad masyarakat perbatasan dan rakyat revolusioner provinsi ini. Sebaliknya, tindakan tersebut justru akan memperkuat persatuan, solidaritas, dan kekompakan masyarakat.”
Ia juga mendesak aparat keamanan, militer, kehakiman, dan otoritas politik provinsi, bersama para ulama, tokoh suku, dan pemimpin masyarakat, untuk segera mengidentifikasi, menangkap, dan menghukum para pelaku, serta memberikan respons yang tegas terhadap para pelaku dan pendukung aksi terorisme.
Mirjaveh, sebuah kabupaten perbatasan di tenggara Provinsi Sistan dan Baluchestan, selama ini dipandang oleh para pejabat setempat sebagai simbol kehidupan berdampingan secara damai dan persatuan di antara berbagai kelompok etnis dan agama.
Para pejabat Iran berulang kali menyatakan bahwa kelompok-kelompok teroris berupaya merusak keamanan serta memicu perpecahan di tengah masyarakat. Namun, menurut mereka, kewaspadaan masyarakat dan kerja sama dengan aparat keamanan telah berhasil menggagalkan berbagai upaya tersebut.


