Tehran, Purna Warta – Menurut pernyataan resmi dari Islamic Revolutionary Guard Corps, gelombang 75 diberi sandi “Ya Fatimah Al-Zahra (SA)” dan dipersembahkan untuk mengenang dua martir, yaitu Mayor Jenderal Ali Mohammad Naeini, juru bicara Garda Revolusi, dan Hujjatul Islam Khatib, Menteri Intelijen Iran. Operasi ini menargetkan pos-pos militer penting Israel dan Amerika.
Berdasarkan informasi dari unit intelijen operasi, serangan gelombang 75 ini menargetkan posisi baru penyebaran militer dan persembunyian pejuang Israel di berbagai wilayah pendudukan. Selain itu, pangkalan udara Prince Sultan di Al-Kharj, salah satu pusat utama operasi udara Amerika terhadap Iran, diserang dengan rudal balistik.
Garda Revolusi menegaskan bahwa pasukan Israel dan Amerika yang bersembunyi, termasuk di kota seperti Arad, tidak akan dapat menghindari serangan karena keunggulan intelijen operasi yang dimiliki Iran.
Adapun gelombang 73 dari operasi Al-Wa’d Al-Sadiq 4 sebelumnya telah menewaskan dan melukai lebih dari 200 pasukan musuh, menunjukkan eskalasi berkelanjutan dalam konflik Iran–Israel–Amerika.
Serangan ini terjadi bersamaan dengan tekanan politik internasional terhadap Israel dan Amerika terkait eskalasi di wilayah pendudukan, termasuk laporan terbaru mengenai serangan roket Iran ke Safed dan Haifa.
Operasi ini menekankan peran Iran dalam mempertahankan keamanan nasionalnya dan memperluas jangkauan serangan terhadap instalasi militer musuh di wilayah pendudukan.
Garda Revolusi menekankan bahwa semua pergerakan musuh berada dalam pengawasan penuh, dan upaya untuk menyembunyikan pasukan di wilayah sipil tidak akan menyelamatkan mereka dari serangan presisi dari unit intelijen Iran.


