Washington, Purna Warta – Meningkatnya ketidakpastian mengenai tercapainya kesepakatan dan penghentian serangan Amerika Serikat terhadap Iran, serta masih terbatasnya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, kembali mendorong kenaikan harga minyak di pasar global.
Menurut jaringan televisi Amerika Serikat CNN melaporkan bahwa harga minyak meningkat di tengah tuntutan Iran agar tuntutannya dipenuhi, penghentian aksi perang Amerika Serikat dan Israel di kawasan, serta penyelesaian persoalan terkait pengendalian Selat Hormuz. Situasi tersebut berlangsung ketika pelanggaran berulang terhadap komitmen oleh Amerika Serikat dan rezim Israel telah membuat tercapainya gencatan senjata jangka panjang dan kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut secara penuh berdasarkan pengaturan keamanan yang menjadi perhatian Iran menghadapi kebuntuan.
CNN menekankan bahwa harga minyak mentah Brent naik sekitar 1 persen menjadi 89,12 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik sekitar 1 persen menjadi 83,43 dolar AS per barel. Brent berada di jalur untuk mencatat kenaikan harian selama enam hari berturut-turut.
Harga minyak mengalami fluktuasi tajam di tengah pernyataan yang saling bertentangan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari waktu ke waktu menyatakan bahwa kesepakatan antara kedua negara sudah dekat, yang turut memberikan tekanan terhadap harga minyak dunia. Namun, sikap Amerika Serikat untuk melanjutkan operasi militernya di kawasan serta blokade laut terhadap Iran membuat prospek tercapainya kesepakatan tetap tidak pasti.
Perkembangan terbaru
Perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa ketidakpastian tersebut masih menjadi faktor utama di pasar minyak. Pada 13 Agustus 2026, harga minyak justru sedikit melemah karena kekhawatiran mengenai melemahnya permintaan global mengimbangi kekhawatiran terkait pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Reuters melaporkan Brent turun 11 sen menjadi 88,87 dolar per barel, sedangkan WTI turun 16 sen menjadi 83,11 dolar per barel. Pada saat yang sama, ketidakpastian mengenai konflik dan perundingan Amerika Serikat–Iran terkait Selat Hormuz masih menjadi sumber volatilitas pasar.
Kondisi Selat Hormuz tetap menjadi persoalan utama karena jalur tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Associated Press melaporkan bahwa Iran dalam beberapa hari terakhir mengajukan tuntutan baru terkait pembukaan kembali selat tersebut, sementara Oman menyatakan bahwa pembicaraan untuk mengelola lalu lintas di Selat Hormuz terus berlangsung.
Tekanan terhadap perdagangan maritim juga meningkat. Pada 11 Agustus, otoritas Yaman melaporkan bahwa enam orang tewas dalam serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap sebuah kapal di Selat Bab el-Mandeb. Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran bahwa gangguan terhadap jalur pelayaran strategis dapat meluas dari Selat Hormuz ke jalur alternatif menuju Laut Merah.
Kenaikan harga minyak sebelumnya bahkan sempat menembus level yang lebih tinggi. Pada 20 Juli, Reuters melaporkan harga Brent melonjak lebih dari 3 persen hingga 90,79 dolar per barel, sementara WTI mencapai 84,68 dolar per barel, setelah intensifikasi serangan Amerika Serikat dan Iran mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz.
Namun, pasar juga menunjukkan betapa cepatnya harga minyak dapat berubah ketika muncul tanda-tanda de-eskalasi. Pada akhir Juni, harga Brent sempat turun ke sekitar 73 dolar per barel setelah tercapai kesepahaman awal yang memungkinkan kapal-kapal tanker yang sebelumnya terjebak keluar dari Selat Hormuz dan meredakan kekhawatiran mengenai pasokan.
Dengan demikian, perkembangan harga minyak saat ini tidak hanya ditentukan oleh produksi dan permintaan, tetapi juga oleh status keamanan Selat Hormuz, volume pelayaran tanker, perkembangan negosiasi Washington–Teheran, serta kemungkinan meluasnya konflik ke jalur perdagangan energi lainnya. Reuters menilai ketidakpastian tersebut masih berpotensi menyebabkan volatilitas tinggi, meskipun tekanan dari melemahnya permintaan global mulai memberikan efek penyeimbang.
Catatan: Angka 89,12 dolar Brent dan 83,43 dolar WTI merupakan angka yang tercantum dalam teks sumber yang Anda berikan. Untuk kondisi pasar paling mutakhir, angka Reuters pada 13 Agustus 2026 menunjukkan masing-masing sekitar 88,87 dolar dan 83,11 dolar per barel.


