Hasakah, Purna Warta – Amerika Serikat akan mengurangi kehadiran militernya secara drastis di Suriah, dari delapan basis menjadi hanya satu, yang akan dipertahankan di provinsi al-Hasakah, demikian disampaikan oleh Utusan Khusus AS untuk Suriah, Thomas Barrack. Dalam wawancara dengan saluran NTV Turki, Barrack menyebut langkah ini sebagai bagian dari perubahan kebijakan besar-besaran AS terhadap Suriah.
Baca Juga : Iran Tidak Akan Tinggalkan Pengayaan Uranium: Pesan Tegas Sayyed Khamenei
“Kebijakan Suriah kita ke depan tidak akan menyerupai kebijakan 100 tahun terakhir — karena semuanya gagal,” ujar Barrack.
Barrack, yang juga menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Turki, ditunjuk langsung oleh Presiden Donald Trump dan terlibat dalam strategi baru yang mencakup pencabutan sanksi terhadap Suriah.
AS Kurangi 500 Pasukan, Fokus ke al-Hasakah
AS telah menarik sekitar 500 pasukan dari Suriah dalam beberapa minggu terakhir. Tiga instalasi utama, termasuk Mission Support Site Euphrates dan Green Village, telah dikosongkan. Pentagon sebelumnya merencanakan pengurangan kekuatan dari 2.000 menjadi kurang dari 1.000 pasukan.
Sejumlah perlengkapan militer juga telah dipindahkan dari Deir Ezzor. Kini, AS hanya akan memusatkan operasinya di al-Hasakah, menurut dua sumber keamanan.
Militan Eks HTS Dimasukkan ke Tentara Nasional Baru
Dalam langkah kontroversial lainnya, Barrack mendukung rencana pemerintah transisi Suriah untuk mengintegrasikan sekitar 3.500 mantan militan HTS, termasuk warga asing seperti Uyghur, ke dalam Divisi ke-84 dari tentara nasional baru.
Baca Juga : Lee Jae-myung Resmi Dilantik Sebagai Presiden Korea Selatan, Janjikan Dialog dengan Korea Utara
Meskipun dianggap sebagai cara untuk meredam kelompok ekstremis, rencana ini menuai kritik internasional, terutama dari Tiongkok, karena keterkaitan para militan tersebut dengan Partai Islam Turkistan yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh Beijing.
SDF Akan Diintegrasikan ke Pemerintahan Baru
Barrack juga menyampaikan bahwa Pasukan Demokratik Suriah (SDF) tetap menjadi mitra strategis penting. Ia menegaskan perlunya mengintegrasikan SDF ke dalam struktur pemerintahan baru, meski tetap mengingatkan perlunya “ekspektasi yang wajar.” Namun, ini menjadi titik ketegangan dengan Turki yang menganggap SDF sebagai cabang dari PKK, kelompok yang mereka anggap sebagai teroris.
Menariknya, ketegangan ini muncul setelah PKK mengumumkan pembubarannya, menandai akhir dari pemberontakan selama 40 tahun.
Simbol Diplomatik: Kembali ke Damaskus
Menandai babak baru diplomatik, bendera AS dikibarkan kembali di kediaman duta besar AS di Damaskus untuk pertama kalinya sejak 2012. Ini mengisyaratkan kembalinya hubungan diplomatik dengan Suriah.
Baca Juga : Shoigu Kunjungi Korea Utara, Bahas Kemitraan Strategis dan Keamanan Regional dengan Kim Jong Un
AS Dituduh Curi Minyak dan Lakukan Operasi Rahasia
Langkah pengurangan pasukan ini juga terjadi di tengah tuduhan pencurian sumber daya oleh AS, termasuk penyelundupan minyak dari ladang al-Jazeera ke Irak menggunakan konvoi 45 truk. Pemerintah Suriah memperkirakan kerugian mencapai lebih dari $112 miliar, termasuk kerusakan langsung dan tidak langsung.
Selain itu, laporan menyebut bahwa AS mendukung Revolutionary Commando Army (RCA) — kelompok pembelot dari tentara Suriah — yang berperan dalam penggulingan pemerintah Presiden Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024.
Presiden Trump sebelumnya secara terbuka mengakui motivasi AS di Suriah:
“Kami menjaga minyaknya. Kami memiliki minyak itu. Minyaknya aman.”


