Sungai Cimeta Bandung Barat Tercemar, Warna Air Jadi Merah Darah

Bandung, Purnawarta – Sungai Cimeta di Kampung Cikurutug, Desa Tagog Apu, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat mengalami pencemaran. Peristiwa ini viral di media sosial lantaran air di sungai sampai berubah warna menjadi merah darah.

Pada Senin pagi, warga melihat kejadian tersebut langsung melapor ke RT dan RW setempat. Aliran sungai tersebut mengalir ke beberapa desa di Kecamatan Padalarang. Dari laporan itu pihak Babinsa Desa Campakamekar, petugas BPBD Bandung Barat, dan Satgas Citarum Harum Sektor 9 langsung menelusuri sumber pencemaran sungai.

Berdasarkan pengecekan awal dengan pengambilan sampel air sungai, warna merah pada air itu diduga gegara pewarna kain.

“Setelah kita cek terus dipegang ternyata warna merahnya itu menempel di tangan dan susah hilang. Dari pengalaman kami, biasanya itu bahan pewarna kain,” ucap Komandan Subsektor 9 Satgas Citarum Harum, Kholid Abdurrahman kepada wartawan.

Hal ini diperkuat dengan ditemukannya gundukan serbuk tinta berwarna merah marun di sekitar aliran Sungai Cimeta. Serbuk tersebut kemudian dibawa untuk diuji laboratorium.

“Jadi, kami temukan serbuk tinta warna merah di tanah di pinggir aliran sungai. Kami bawa sampelnya untuk dicek Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biologycal Oxygen Demand (BOD),” ujar Kholid.

Dalam kejadian ini, salah satu warga telah mengaku sebagai pembuang karung di pinggir Jalan Raya Padalarang-Purwakarta. Tepatnya di seberang SD Negeri 1 Tagogapu pada Senin pagi. Agus Rosandi (42), bersama kakaknya menemukan satu buah karung yang menghalangi saluran air.

Agus mengatakan saat membuang karung tersebut, kakaknya tidak tahu menahu apa isinya. Karung dibuang agar air dari jalan tidak meluber ke rumah warga saat hujan deras.

“Awalnya kami sangka karung itu isinya cuma tanah biasa. Tapi setelah masuk air, ternyata air sungainya malah berubah jadi warna merah,” tutur Agus.

Setelah membuang karung, keduanya tak bisa berbuat apa-apa. Sampai akhirnya warga lain geger menemukan kondisi air sungai yang telah berubah warna menjadi merah darah. Menerima laporan tersebut, Kholid dan tim langsung mencari keberadaan karung.

“Kami temukan serbuk pewarna di tanah dekat sungai dan jalan. Serbuknya itu di dalam karung kemudian dibuang oleh warga ke aliran sungai. Kami nanti akan koordinasi dengan DLH KBB dan provinsi untuk penemuan serbuk ini,” ungkap Kholid.

Sementara untuk pihak pemilik karung yang berisi pewarna kain tadi sampai saat ini belum diketahui identitasnya, namun pihak Citarum Harum akan bekerja sama dengan polisi untuk mencarinya.

Dampak pencemaran limbah yang terjadi akibat pewarna kain itu masih belum dapat dipastikan sampai lima jam ke depan, jika hasil COD dan BOD tinggi, maka berpotensi merusak ekosistem yang ada di air. Meski demikian, status PH air masih di ambang batas normal di angka 6 dari maksimal 7.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *