Jakarta, Purna Warta – Pengamat Departemen Ekonomi Universitas Andalas Padang, Syafruddin Karimi, menilai pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS tidak dapat dimaknai semata-mata sebagai cerminan buruknya kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut dia, pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi tekanan eksternal yang masih kuat, mulai dari penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil global, ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, hingga arus keluar modal dari pasar saham Indonesia.
“Pelemahan rupiah ke kisaran Rp18.128 per dolar AS tidak bisa dibaca semata-mata sebagai vonis pasar terhadap APBN, karena tekanan eksternal tetap besar,” ujarnya kepada Kompas.com pada Jumat (10/7/2026).
Meski demikian, Syafruddin mengingatkan kondisi fiskal tetap menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor dalam menilai stabilitas perekonomian Indonesia, karena pelemahan nilai tukar dapat memperbesar beban subsidi energi, kompensasi, pembayaran bunga utang valas, serta meningkatkan kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Posisi rupiah di atas Rp18.000 per dolar AS juga menciptakan deviasi cukup besar terhadap asumsi APBN 2026 yang menggunakan kurs sekitar Rp16.500 per dolar AS.
Menurut Syafruddin, pemerintah memang pernah menyampaikan bahwa pelemahan kurs hingga di atas Rp18.000 masih berada dalam skenario perhitungan APBN, namun pernyataan itu hanya akan dipercaya jika disertai disiplin belanja, pembiayaan terukur, dan strategi penerimaan yang realistis.
Ia menyebut pelemahan rupiah saat ini lebih didorong tekanan eksternal dan sentimen terhadap negara berkembang, tetapi kekhawatiran terhadap kondisi fiskal berpotensi memperbesar tekanan apabila pemerintah tidak mampu menunjukkan pengendalian defisit APBN hingga akhir tahun.


