Hanya 18 dari 718 Bahasa Daerah di Indonesia yang Masih Aman, Badan Bahasa Genjot Revitalisasi

Jakarta, Purna Warta – Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hafidz Muksin, mengungkapkan bahwa dari 718 bahasa daerah yang terdata di Indonesia, hanya 18 bahasa yang saat ini tergolong dalam kondisi aman dan tetap eksis.

Baca juga: Menag Nasaruddin Umar: Retret Penting bagi Kepala Daerah untuk Kontemplasi dan Konsentrasi

“Kalau bahasa daerah yang kita kategorikan aman adalah bahasa yang masih dipakai setidaknya oleh semua anak-anak dan orang tua dalam etnik tertentu,” katanya saat dihubungi detikEdu, Rabu (25/6/2025).

Adapun 18 bahasa yang dinyatakan aman meliputi: Bugis, Makassar, Muna, Aceh, Melayu, Minangkabau, Jawa, Sunda, Madura, Bali, Sumbawa, Sentani, Awban, Korowai, Tokuni, Biak, Serui, dan Kuri.

Kondisi aman tersebut didasarkan pada indikator daya hidup bahasa menurut UNESCO tahun 2003, yang menyatakan bahwa bahasa dianggap aman apabila masih digunakan lintas generasi dan memiliki transmisi antargenerasi yang tidak terputus.

“Contoh bahasa Sunda Ini masuk dalam kategori yang aman sebenarnya karena orang tua, anak-anak di wilayah-wilayah Sunda Jawa Barat menggunakan bahasa Sunda,” ungkapnya.

Ia juga menyebut bahwa bahasa Bali termasuk dalam kategori aman karena masyarakat di beberapa wilayah di Bali masih menggunakan bahasa tersebut dalam komunikasi sehari-hari, termasuk dalam kegiatan adat dan keagamaan.

“Begitu juga bahasa Jawa. Bahasa Jawa masuk kategori aman sebenarnya karena masih banyak aktivitas-aktivitas dan kegiatan di lingkungan keluarga, masyarakat budaya, juga menggunakan bahasa Jawa,” terangnya.

Di sisi lain, tak sedikit bahasa daerah yang kini menghadapi ancaman kepunahan. Berdasarkan data Badan Bahasa pada 2019, terdapat 11 bahasa yang sudah dinyatakan punah. Sedangkan saat ini, dari 718 bahasa: 18 aman, 21 rentan, 3 alami kemunduran, 29 terancam punah, 8 kritis, dan 5 punah.

Badan Bahasa memiliki target ambisius untuk merevitalisasi 120 bahasa daerah pada tahun ini.

“Pertama tentu kita melihat keberhasilan dari sisi jumlah jumlah sasaran bahasa daerah yang direvitalisasi jadi di tahun 2021 itu kita baru melakukan upaya ini sebagai upaya percontohan di 3 provinsi yaitu Jawa Tengah Jawa Barat dan Sulawesi Selatan,” ungkap pria kelahiran Purbalingga tersebut.

Baca juga: Taufik Hidayat Tegaskan Atlet Harus Siap 100 Persen Jelang Japan Open 2025

Salah satu strategi utama dalam upaya pelestarian ini adalah melalui pembelajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah dalam bentuk muatan lokal. Jumlah siswa yang terlibat pun terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Di tahun 2024 tercatat 10.1 juta siswa yang terlibat dalam pembelajaran bahasa daerah artinya ini secara jumlah penerima manfaat yang terimbas juga meningkat itu menurut saya adalah tingkat keberhasilan dari sisi jumlah,” ujarnya.

Badan Bahasa juga menyelenggarakan Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) sebagai bentuk apresiasi terhadap siswa yang aktif melestarikan bahasa daerah masing-masing, sekaligus menjadi barometer keberhasilan program revitalisasi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *