Wabah Ebola Ke 17 Di Kongo Menewaskan 87 Orang Dan Kasus Diperkirakan Akan Terus Bertambah

Wabah Ebola Kongo

Purna WartaSetidaknya 87 kasus kematian telah dilaporkan dalam wabah penyakit Ebola baru di Kongo, tepatnya di provinsi Ituri bagian timur, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC).

CDC memperingatkan adanya penularan aktif, sementara petugas kesehatan berupaya keras untuk mengintensifkan pemeriksaan dan pelacakan kontak untuk menahan penyebaran penyakit tersebut.

“Setiap hari, orang-orang meninggal… dan ini telah berlangsung selama sekitar seminggu. Dalam satu hari, kami menguburkan dua, tiga, atau bahkan lebih banyak orang,” kata Jean Marc Asimwe, seorang warga Bunia.

Ebola sangat menular dan dapat ditularkan melalui cairan tubuh seperti muntah, darah atau air mani. Gejala yang ditimbulkan jarang terjadi, tetapi parah dan seringkali fatal.

Para pejabat pertama kali mengumumkan wabah terbaru Ebola di Kongo pada Jumat malam dengan 65 kematian dan 246 kasus. Pada hari Sabtu CDC Afrika melaporkan 336 diduga kasus tambahan dengan 13 kasus yang telah terkonfirmasi pasti. Empat orang telah meninggal di antara kasus yang dikonfirmasi.

Dalam sebuah briefing daring, Direktur Jenderal CDC Afrika, Jean Kaseya, mengatakan kasus pertama dilaporkan di zona kesehatan Mongwalu, daerah pertambangan dengan lalu lintas tinggi.

“Kasus-kasus tersebut kemudian menyebar ke Rwampara dan Bunia karena pasien mencari perawatan medis, sehingga memungkinkan penyebaran di tiga zona kesehatan,” katanya.

Sejumlah besar kasus aktif masih berada di komunitas lokal, khususnya di Mongwalu, kata Kaseya, “yang secara signifikan mempersulit upaya penahanan dan pelacakan kontak”.

Ketidakamanan di Ituri, tempat militan yang didukung ISIS melakukan serangan mematikan, membatasi pengawasan dan operasi respons cepat, tambahnya.

Dari 87 kematian tersebut, 57 diantaranya berada di zona kesehatan Mongwalu, 27 di zona kesehatan Rwampara dan tiga di Bunia, kota utama Ituri.

Menteri Kesehatan Republik Demokratik Kongo Samuel-Roger Kamba mengatakan hasil tes mengonfirmasi virus Bundibugyo, varian penyakit yang kurang menonjol dibanding wabah sebelumnya.

“Strain Bundibugyo tidak memiliki vaksin, tidak ada pengobatan khusus,” kata Kamba.

Ini adalah wabah ke-17 di Kongo sejak Ebola pertama kali muncul di negara itu pada tahun 1976.

Kasus pertama yang diduga muncul dalam wabah terbaru ini adalah seorang perawat yang meninggal di sebuah rumah sakit di Bunia, kata Kamba.

Ia mengatakan kasus tersebut terjadi tiga minggu lalu, tepatnya pada 24 April.

Ia tidak menyebutkan apakah sampel dari perawat tersebut telah diuji, tetapi mengatakan bahwa orang tersebut menunjukkan gejala yang mengarah ke Ebola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *