Purna Warta — Presiden Donald Trump dalam rangka menekan pemerintah Venezuela dan Kuba menggunakan blokade laut. Kini demi menuntut Iran agar memenuhi tuntutannya, Trump kembali menggunakan taktik tersebut. Tetapi taktik pilihannya menghadapi realitas yang jauh berbeda.
Tak seperti Kuba atau Venezuela, Iran mencekik jalur perdagangan penting dunia. Semakin lama kebuntuan berlanjut, semakin besar penderitaan ekonomi global. Teheran juga membawa ancaman militer yang lebih besar daripada kedua negara tersebut. Iran berada di lokasi yang lebih jauh dari pusat pemerintahan Amerika ketimbang Venezuela dan Kuba yang masih berada di sekitar Benua Amerika.
Kendali Iran atas Selat Hormuz membuatnya berada di posisi kuat selama gencatan senjata. Resiko ekonomi, terutama harga bahan bakar di AS yang lebih tinggi di tahun pemilihan, dapat memaksa presiden Republikan ini untuk mengakhiri blokade di pelabuhan dan garis pantai Iran, kata para ahli.
“Sekarang pertanyaannya adalah negara mana, AS atau Iran, yang memiliki daya tahan lebih besar,” kata Max Boot, seorang sejarawan militer dan peneliti senior bidang studi keamanan nasional di Council on Foreign Relations.
Efektifitas penggunaan angkatan laut terkuat di dunia oleh Trump untuk memblokir perdagangan Iran lainnya masih diperdebatkan.
Militer AS mengumumkan penyitaan kapal tanker lain sehari setelah IRGC menguasai dua kapal di jalur perairan penting tersebut.
Trump juga mengumumkan bahwa ia memerintahkan militer AS untuk menembak dan membunuh kapal-kapal kecil Iran yang memasang ranjau laut di selat tersebut.
Namun, situasi di Iran tidak sepenuhnya senada dengan apa yang terjadi dengan operasi AS di Venezuela dan Kuba.
Beberapa ahli mengatakan bahwa keberhasilan Trump di Venezuela kemungkinan lebih berkaitan dengan penangkapan Nicolás Maduro, pemimpin negara tersebut.
Sementara itu, embargo minyak AS terhadap Kuba menyebabkan krisis ekonomi terparah di pulau itu dalam beberapa dekade terakhir. Tekanan finansial tersebut pun pada akhirnya gagal menghasilkan tujuan yang dinyatakan oleh pemerintahan Trump, yaitu penggantian kepemimpinan.
“Saya pikir keberhasilan misi Maduro di Venezuela mungkin telah memberi keberanian kepada presiden,” kata Todd Huntley, direktur Program Hukum Keamanan Nasional Universitas Georgetown.
Hal itu tidak berarti bahwa situasi di Venezuela dan Iran serupa baik secara geografis, militer atau politik. “Ada beberapa perbedaan besar,” kata Huntley, seorang pensiunan kapten Angkatan Laut dan jaksa agung.
Meskipun blokade terhadap Iran memberikan pukulan berat bagi perekonomiannya, negara itu masih mampu memindahkan sebagian minyak yang terkena sanksi, kata perusahaan pelacak kapal.
“Blokade biasanya hanyalah salah satu mekanisme yang digunakan dalam konflik,” kata Salvatore Mercogliano, seorang profesor sejarah maritim di Universitas Campbell di Carolina Utara. “Blokade bisa penting. Tetapi itu hanya satu elemen. Dan saya rasa itu tidak akan cukup untuk meyakinkan Iran.”


