Purna Warta – CEO Dow Jim Fitterling, mengatakan bahwa mengurai kemacetan di Selat Hormuz bisa memakan waktu jauh lebih lama daripada yang diperkirakan investor.
Dow Inc adalah adalah perusahaan ilmu material global terkemuka di bidang bisnis plastik, bahan industri, pelapis dan silikon yang berkantor pusat di Midland, Michigan.
Selat Hormuz yang tertutup sejak awal perang mengakibatkan banyak sekali kapal-kapal tertahan di dalam selat tersebut. Sebelum memulai aktivitas selat, kapal-kapal yang ada di dalam harus di kurangi terlebih dahulu. Namun, sekedar mengkosongkan Selat Hormuz itu sendiri akan memakan waktu lama, yang tentu akan memperpanjang situasi krisis.
“Beberapa skenario yang kami perkirakan menunjukkan bahwa seandaianya selat dibuka kembali hari ini juga, sekedar mengurai kemacetan logistik saja akan memakan waktu 275 hari, mungkin lebih lama lagi,” katanya kepada Jim Cramer di acara “Mad Money” CNBC pada hari Kamis.
Selat Hormuz secara efektif ditutup pada awal Maret saat dimulainya perang AS-Israel terhadap Iran. Perang ini memicu hambatan besar dalam aliran energi dan petrokimia global. Fitterling mengatakan jalan kembali ke situasi normal akan berjalan lambat dan rumit secara operasional.
“Kita harus mengembalikan kapal-kapal kosong. Kita harus membersihkan selat dan Teluk Arab. Kita harus mengembalikan kapal-kapal kosong,” kata CEO Dow Inc yang akan pensiun pada 1 Juli setelah delapan tahun menjabat. “Ini tidak akan terjadi dalam satu atau dua bulan. Ini akan memakan waktu beberapa kuartal sebelum kita melihat keadaan kembali normal.”
Guncangan awal usai perang sangat signifikan bagi pasar petrokimia, di mana Dow adalah salah satu pemain utama. “Ketika Selat Hormuz ditutup, 20% kapasitas minyak global terhenti, namun sekitar 50% produksi etilena dan polietilena global terkena dampaknya,” kata Fitterling, merujuk pada dua bahan utama pembuatan produk plastik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menambahkan bahwa hambatan tersebut sangat vital dalam rantai pasokan petrokimia. Ia mencatat bahwa sekitar 40% nafta yang digunakan dalam produksi di Asia dan Eropa mengalir melalui selat tersebut. Sehingga penutupannya membuat pasokan seketika menjadi terbatas. Nafta yang beerasal dari minyak mentah merupakan bahan utama untuk memproduksi plastik dan bahan kimia lainnya.
Ketidakseimbangan tersebut mendorong lonjakan harga yang tajam. “Kami melihat peningkatan 10 sen per pon pada bulan Maret, dan kami menjumpai kenaikan 30 sen pada bulan April dan 20 sen pada bulan Mei,” katanya. “Kami belum pernah melihat kenaikan harga seperti ini selama lebih dari satu dekade.”


