Purna Warta – Negara-negara Teluk Persia seperti Uni Emirat Arab memiliki banyak dolar, namun mereka meminta akses lebih banyak lagi dari AS dan pemerintahan Trump tampaknya terbuka terhadap gagasan tersebut. Akses tersebut biasa disebut dengan jalur pertukaran atau swap lines.
Tuntutan Negara Teluk tersebut lebih berkaitan dengan politik daripada keuangan. Penyetujuan pemerintahan Trump adalah sebuah tanda bagaimana AS berupaya mempertahankan dominasi dolar di tengah perubahan geopolitik.
Jalur pertukaran ini bekerja dengan cara bank sentral asing menukar mata uang negara mereka dengan dolar AS. Departemen Keuangan AS memiliki kemampuan terbatas dalam hal ini, namun Bank Sentral AS memiliki sumber daya lebih banyak. Bank Sentral AS memiliki jalur pertukaran tetap dengan sejumlah bank sentral sekutu utama seperti Kanada, Jepang dan Uni Eropa.
Pada sidang Senat, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan bahwa “banyak sekutu Teluk kita meminta jalur pertukaran.”
“Jalur pertukaran, baik dari Bank Sentral maupun Departemen Keuangan, bertujuan untuk menjaga ketertiban di pasar pendanaan dolar dan untuk mencegah penjualan aset AS secara tidak teratur.”
Dinukil dari Axios, para analis mengatakan kenyataannya tidak hanya itu. Ada kemungkinan bahwa negara-negara Teluk akan menghadapi krisis likuiditas jika perang ini berkepanjangan. Hal itu disebabkan oleh tertutupnya Selat Hormuz, jalur dimana negara-negara Teluk mendistribusikan minyak dan barang lainnya untuk kemudian mendapat bayaran dolar.
Permintaan tersebut merupakan cara mereka untuk mempersiapkan kemungkinan krisis finansial, kata Vishal Khanduja, kepala pendapatan tetap pasar luas di Morgan Stanley. Lebih baik meminta sekarang sebelum keadaan benar-benar memburuk.
Permintaan ini bisa saja dirahasiakan, tetapi tetap dipublikasikan guna mengirimkan sinyal ke pasar. Dengan ini mereka bisa meyakinkan investor bahwa negara-negara ini sedang memperkuat cadangan, katanya.
Jalur pertukaran dapat mendukung kemampuan negara-negara Teluk untuk terus berinvestasi di AS, tulis analis Evercore pada hari Kamis.
“Dalam hal politik, mungkin yang terpenting adalah pertukaran setidaknya dapat memperkuat kemampuan negara-negara Teluk untuk memenuhi komitmen investasi besar AS yang sering digembar-gemborkan oleh Gedung Putih.”
Menurut Evercore, bagi negara-negara yang ingin menjadi pemain “kelas atas” dalam sistem dolar global, mendapatkan akses ini juga merupakan sebuah kebanggaan.
Permintaan itu juga merupakan cara negara-negara Teluk menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap perang.
“Ini untuk mengirim pesan kepada pemerintah bahwa Uni Emirat Arab tidak senang karena mereka diminta untuk menanggung biaya ekonomi signifikan sebagai akibat dari keputusan pemerintah,” kata Brad Setser, seorang peneliti senior di Council on Foreign Relations, kepada Axios. “Dan mereka merasa belum diajak konsultasi atau diberi kompensasi secara memadai.”
Idealnya, pertukaran mata uang dilakukan untuk negara-negara yang secara ekonomi aman dan terpercaya.
Memperluas pertukaran mata uang ke lebih banyak negara dapat mengamankan dominasi global dolar, kata mereka.


