Al-Quds, Purna Warta – Seorang warga Palestina dilaporkan kehilangan nyawa dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara Israel yang menghantam kota Deir al-Balah di bagian tengah Jalur Gaza.
Kantor berita resmi Palestina WAFA melaporkan bahwa pesawat tempur Israel menyerang kota tersebut pada hari Sabtu, yang mengakibatkan satu korban jiwa dan beberapa korban luka.
Sumber lokal menyebutkan bahwa serangan tersebut menargetkan sebuah pos pemeriksaan polisi yang terletak di sebelah utara Deir al-Balah.
Pihak medis kemudian mengidentifikasi korban tewas sebagai Dr. Jamal Abu Aoun, yang menjabat sebagai kepala departemen anestesi di Rumah Sakit Yafa di kota tersebut.
Serangan udara ini terjadi di tengah berlanjutnya dugaan pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada Oktober 2025. Sumber Palestina juga mencatat bahwa serangan artileri Israel lainnya menyasar berbagai lokasi di Jalur Gaza pada hari Sabtu.
Serangan tersebut menyusul pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada awal pekan ini yang menyatakan bahwa ia telah memerintahkan militer untuk memperluas wilayah yang berada di bawah kendali Israel di Gaza hingga mencapai 70 persen dari wilayah yang terkepung. Keputusan ini menuai kritik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah pemerintah di seluruh dunia.
Pada hari Sabtu, otoritas medis Palestina melaporkan bahwa jumlah korban jiwa akibat operasi militer di Gaza telah mencapai 72.938 orang, sementara 172.919 lainnya terluka sejak Oktober 2023.
Otoritas kesehatan menyatakan bahwa rumah sakit di seluruh Gaza menerima tujuh jenazah dalam 24 jam terakhir, termasuk enam kematian baru dan satu orang yang meninggal akibat luka sebelumnya. Selain itu, 25 warga Palestina yang terluka juga dirawat.
Pejabat juga melaporkan bahwa sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober 2025, sedikitnya 929 warga Palestina telah tewas dan 2.811 lainnya terluka akibat serangan dan pelanggaran yang dilakukan Israel.
Mereka juga menyebutkan bahwa 781 jenazah telah berhasil dievakuasi dari berbagai wilayah di Jalur Gaza selama periode tersebut.
Sumber medis menyatakan kekhawatiran bahwa jumlah korban yang belum diketahui masih terjebak di bawah reruntuhan atau berada di area yang tidak dapat dijangkau tim penyelamat akibat serangan militer yang terus berlangsung dan kondisi lapangan yang berbahaya.


