Serangan Besar-besaran Pasukan Israel ke Tepi Barat dan Penangkapan Puluhan Warga Palestina

10 Palestin

Al-Quds, Purna Warta – Pasukan Israel melancarkan serangan besar-besaran di berbagai wilayah Tepi Barat dan menangkap puluhan warga Palestina.

Pada Jumat dini hari pasukan Israel melancarkan operasi besar-besaran di sejumlah wilayah Tepi Barat, termasuk provinsi Ramallah, Hebron, Tulkarm, Jenin, dan Nablus. Dalam operasi tersebut, pasukan Israel menyerbu dan menggeledah rumah-rumah warga serta menangkap puluhan warga Palestina.

Dalam rangkaian serangan tersebut, di kawasan al-Buweirah, sebelah timur Hebron, sekitar 30 anggota dari dua keluarga, termasuk orang sakit dan lanjut usia, ditangkap dan menjalani pemeriksaan dalam kondisi mata dan tangan diborgol.

Pada saat yang sama, ketika aktivitas militer berlangsung di berbagai kota dan desa, pemukim Israel juga menyerang kendaraan warga Palestina di dekat permukiman Kafr Laqif, sebelah timur Qalqilya, dengan melempari kendaraan-kendaraan tersebut menggunakan batu.

Laporan mengenai operasi penangkapan ini muncul di tengah peningkatan operasi militer Israel di Tepi Barat. Pada 12 Agustus, sejumlah laporan yang mengutip kantor berita Palestina WAFA menyebut pasukan Israel melakukan penggerebekan di beberapa wilayah, termasuk Ramallah, al-Bireh, Jenin, Nablus, dan Tulkarm, serta menangkap tujuh warga Palestina, salah satunya seorang jurnalis. Dalam operasi yang sama juga dilaporkan terjadi pembongkaran dua rumah dan puluhan bangunan komersial.

Ketegangan juga meningkat akibat kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina. Pada akhir Juli, pasukan Israel menangkap puluhan warga Palestina dalam operasi di berbagai wilayah Tepi Barat, sementara serangan pemukim terhadap warga dan properti Palestina dilaporkan terjadi di sejumlah provinsi. Di Nablus dan Tulkarm, jumlah penangkapan yang dilaporkan termasuk yang paling tinggi dalam operasi tersebut.

Situasi di Tepi Barat kembali menjadi perhatian internasional setelah pengepungan terhadap rumah-rumah warga Palestina di Qusra, dekat Nablus. Reuters melaporkan bahwa pemukim Israel mengepung tiga rumah Palestina selama beberapa hari, memutus akses air dan listrik, serta menghalangi penghuni keluar dari rumah. Pasukan Israel kemudian dikerahkan ke lokasi. Associated Press melaporkan bahwa insiden tersebut mendorong Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee mengecam para pemukim yang terlibat dan menyebut mereka sebagai “teroris”, sebuah kecaman yang relatif jarang dilontarkan oleh pejabat pemerintahan AS dalam konteks kekerasan pemukim di Tepi Barat.

Kekerasan pemukim juga dilaporkan berkaitan dengan perebutan sumber daya dan tanah. Dalam laporan terbaru pada 14 Agustus, Reuters mengungkap kasus di desa Fasayil, tempat pemukim Israel mengambil alih sumber air yang sebelumnya digunakan warga Palestina untuk pertanian dan kebutuhan rumah tangga. Pipa irigasi milik petani Palestina dilaporkan disita, sementara sumber air tersebut dialihkan untuk fasilitas wisata. PBB mencatat lebih dari 160 serangan terhadap infrastruktur air dan sanitasi oleh pemukim pada 2026.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan di Tepi Barat tidak hanya berupa operasi penangkapan. Penggerebekan militer, penahanan warga Palestina, kekerasan pemukim, pembatasan pergerakan, serta perebutan tanah dan sumber daya berlangsung secara bersamaan. Dalam beberapa pekan terakhir, eskalasi bahkan menyebabkan keluarga Palestina terkurung di rumah mereka dan sebagian warga mengalami pengungsian.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *