Rekam Jejak Kekejaman Zionis: Menilik Pembantaian Paling Berdarah di Gaza

Pembantaian

Al-Quds, Purna Warta – Selama tiga tahun perang genosida terhadap Gaza, pihak Zionis telah melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan paling mengerikan di hadapan mata dunia.

Sejak dimulainya agresi terhadap Gaza pada Oktober 2023 dan selama tiga tahun perang genosida yang terus berlangsung, rezim pendudukan Zionis telah melakukan puluhan pembantaian mengerikan.

Yang patut dicatat, wilayah sipil dan berbagai fasilitas umum, seperti rumah sakit, masjid, dan sekolah, menjadi lokasi terjadinya pembantaian tersebut yang mengakibatkan ribuan orang gugur dan terluka. Meskipun skala kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pihak Zionis di Gaza sangat besar, tidak ada tindakan internasional nyata yang dilakukan untuk menghentikan rangkaian kejahatan tersebut. Para penjajah terus melakukan kejahatan genosida terhadap rakyat Gaza dengan impunitas penuh.

Berikut sejumlah pembantaian paling menonjol yang dilakukan oleh pasukan pendudukan:

Pembantaian Berdarah di Rumah Sakit Al-Ma’madani

Pembantaian mengerikan ini terjadi pada 17 Oktober 2023 terhadap para pengungsi, korban luka, dan pasien yang berlindung di Rumah Sakit Al-Ma’madani di jantung Kota Gaza. Pasukan pendudukan menjatuhkan beberapa bom berat ke rumah sakit tersebut, yang mengakibatkan pembantaian lebih dari 500 warga sipil, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.

Setelah mendapat gelombang kecaman internasional, pihak pendudukan berupaya menyangkal tanggung jawab atas pembantaian tersebut. Namun, bukti-bukti di lapangan menguatkan keterlibatan dan pelaksanaan tindakan mengerikan tersebut.

Kejahatan Besar di Kamp Jabalia

Pada 31 Oktober 2023, terjadi pembantaian baru di Kamp Jabalia di utara Jalur Gaza. Pasukan Zionis menggunakan enam bom berbobot 1.000 kilogram untuk menghancurkan sepenuhnya sebuah blok permukiman di Jalan Al-Hawja, di tengah kamp yang padat penduduk tersebut.

Serangan itu menyebabkan terbentuknya sebuah kawah besar dan mengakibatkan lebih dari 400 orang gugur dan terluka.

Sehari kemudian, pada 1 November, pasukan pendudukan kembali melakukan pembantaian di kawasan Al-Falujah dan menewaskan lebih dari 100 orang. Peristiwa itu terjadi setelah pasukan pendudukan membombardir blok-blok permukiman yang dipenuhi para pengungsi yang melarikan diri dari Beit Hanoun, Beit Lahia, dan kawasan timur yang berada di dekat perbatasan saat ini.

Pembantaian Al-Fakhoura

Pada 18 November 2023, pasukan pendudukan Israel melakukan pembantaian terhadap para pengungsi di Sekolah Al-Fakhoura yang dikelola oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), di Kamp Pengungsi Jabalia, utara Jalur Gaza.

Serangan udara Israel menyasar sekolah yang dipenuhi ribuan pengungsi tersebut, di tengah kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk dan hampir sepenuhnya lumpuhnya layanan medis serta ambulans di wilayah utara Jalur Gaza.

Serangan tersebut mengakibatkan pembantaian sekitar 200 orang dan melukai puluhan lainnya, yang sebagian besar merupakan anak-anak dan perempuan.

Pembantaian Pertama di Rafah

Pembantaian ini terjadi pada 12 Februari 2024, ketika serangan udara besar-besaran menghantam berbagai wilayah Kota Rafah, termasuk rumah-rumah warga sipil, hanya dalam waktu setengah jam.

Dalam kejahatan tersebut, lebih dari 100 orang gugur sebagai syahid dan sejumlah besar lainnya terluka.

Pembantaian di Rumah Sakit Al-Shifa

Pada 18 Maret 2024, pasukan pendudukan Israel menyerang Rumah Sakit Al-Shifa di sebelah barat Kota Gaza dan melakukan pembantaian mengerikan terhadap para korban luka dan pengungsi.

Pembantaian tersebut mencakup pembunuhan di luar proses hukum terhadap korban luka serta para tahanan yang berada dalam kondisi tangan terikat.

Serangan pasukan pendudukan Zionis terhadap rumah sakit tersebut berlangsung selama hampir sembilan hari. Sekitar 400 warga Palestina gugur dalam pembantaian tersebut, sebagian besar merupakan para pengungsi yang berlindung di rumah sakit.

Pasukan pendudukan dengan sengaja membunuh mereka dengan dingin dan menguburkan banyak korban di halaman rumah sakit untuk menyembunyikan kejahatan mereka.

Pembantaian di Lokasi Distribusi Bantuan

Pada 29 Februari 2024, pasukan pendudukan Israel melakukan pembantaian mengerikan dengan melepaskan tembakan ke arah sekelompok warga Palestina yang sedang menunggu truk bantuan di kawasan Lapangan Nabulsi, selatan Kota Gaza.

Peristiwa tersebut menyebabkan 112 warga Palestina gugur sebagai syahid dan 760 lainnya terluka.

Pembantaian di Sekolah Al-Tabi’in

Pada 10 Agustus 2024, tentara pendudukan Israel meluncurkan tiga rudal ke arah para pengungsi yang berada di Sekolah Islam Al-Tabi’in di kawasan Al-Daraj, Kota Gaza, ketika mereka sedang melaksanakan salat Subuh di musala sekolah tersebut.

Pembantaian ini mengakibatkan sedikitnya 100 warga sipil Palestina gugur dan puluhan lainnya terluka. Sejumlah orang lainnya juga dinyatakan hilang dan terkubur di bawah reruntuhan.

Pembantaian Beit Lahia

Pada pagi hari 29 Oktober 2024, pesawat tempur rezim Zionis melancarkan serangan udara terhadap sebuah bangunan permukiman lima lantai milik keluarga Abu Nasr di kawasan Proyek Beit Lahia, utara Jalur Gaza.

Sekitar 200 pengungsi, yang sebagian besar merupakan anak-anak dan perempuan, tinggal di bangunan tersebut. Serangan udara itu menyebabkan sedikitnya 93 warga Palestina gugur, termasuk 25 anak-anak, sementara 40 orang lainnya dinyatakan hilang di bawah reruntuhan.

Pembantaian dalam 24 Jam

Pada 2 Desember 2024, pasukan pendudukan Israel melakukan sejumlah pembantaian di Jabalia, utara Jalur Gaza, serta di berbagai wilayah lainnya. Serangkaian serangan terpisah yang dilakukan hanya dalam kurun waktu 24 jam tersebut mengakibatkan lebih dari 700 warga Palestina di Gaza tewas.

Pembantaian di Kamp Al-Maghazi

Pada malam 24 Desember, pesawat tempur tentara Zionis membombardir sebuah kawasan permukiman padat yang menjadi tempat tinggal para pengungsi.

Serangan udara tersebut menyasar rumah-rumah yang dipenuhi para pengungsi yang melarikan diri dari wilayah utara Jalur Gaza. Serangan itu mengakibatkan pembantaian lebih dari 70 warga Palestina, yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *