Washington, Purna Warta – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai masa depan politik Perdana Menteri pendudukan Benjamin Netanyahu memunculkan pertanyaan baru tentang peluangnya untuk tetap bertahan di puncak kekuasaan, di saat sebuah jajak pendapat menunjukkan penolakan mayoritas pemukim terhadap pencalonannya untuk masa jabatan baru.
Dalam sebuah wawancara, Trump mengatakan: “Saya tidak tahu apakah Bibi ingin terus menjabat, ia telah memiliki karier yang luar biasa, tetapi apakah ia ingin melanjutkan? Ia adalah perdana menteri di masa perang.” Pernyataan ini dianggap oleh sejumlah pengamat sebagai indikasi adanya keraguan bahkan di dalam lingkaran Amerika terkait masa depan politik Netanyahu.
Pernyataan tersebut bertepatan dengan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh “Institut Demokrasi Israel”, yang menunjukkan bahwa 61% pemukim tidak mendukung Netanyahu mencalonkan diri untuk masa jabatan baru, sementara hanya 35% yang berpendapat bahwa ia seharusnya ikut dalam pemilu berikutnya.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa mayoritas peserta mendukung pembatasan masa jabatan perdana menteri di masa depan maksimal dua periode, sebagai indikasi meningkatnya keinginan untuk mengubah lanskap politik di dalam entitas tersebut.
Netanyahu menghadapi kritik berkelanjutan terkait kegagalan keamanan yang berkaitan dengan peristiwa 7 Oktober 2023, serta kasus-kasus korupsi dan perpecahan politik internal, meskipun basis dukungan sayap kanannya tetap mempertahankannya.
Perkembangan ini terjadi di saat Netanyahu bersiap menghadapi kontestasi politik mendatang di tengah penurunan signifikan tingkat dukungan publik, yang menempatkan masa depan politiknya menghadapi tantangan yang semakin besar.


