Doha, Purna Warta – Mesir, Qatar, dan Turki mengecam serangan Israel terhadap Jalur Gaza serta menyerukan agar Israel memenuhi seluruh kewajibannya berdasarkan kesepakatan gencatan senjata.
Menurut laporan kelompok internasional kantor berita Tasnim, Mesir, Qatar, dan Turki merespons serangan Israel di Jalur Gaza dengan mengecam keras tindakan tersebut. Ketiga negara tersebut merupakan negara mediator dalam proses perundingan terkait Gaza.
Dalam pernyataan bersama, para pejabat Mesir, Qatar, dan Turki menyatakan bahwa mereka dengan tegas mengecam serangan Israel terhadap Jalur Gaza dan menekankan pentingnya Israel memenuhi seluruh komitmennya berdasarkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mengatakan bahwa perhatian harus diarahkan pada pelaksanaan peta jalan terkait Gaza. Ia menambahkan, “Bola sekarang berada di pihak Israel,” yang berarti Israel kini harus mengambil langkah konkret untuk memenuhi komitmen yang telah disepakati.
Berita dan perkembangan terkait Palestina
Pernyataan tersebut sesuai dengan perkembangan yang dilaporkan Reuters pada 20 Agustus 2026. Reuters melaporkan bahwa Mesir, Qatar, dan Turki mengecam serangkaian serangan udara Israel di Gaza yang menurut sumber medis Palestina telah menewaskan sedikitnya 16 warga Palestina sejak Selasa. Ketiga negara tersebut memperingatkan bahwa meningkatnya serangan dapat merusak upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik dan menyerukan Israel mematuhi kesepakatan gencatan senjata.
Dalam pernyataan bersama terbaru, ketiga negara mediator menegaskan bahwa serangan yang menewaskan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, terjadi pada saat upaya intensif sedang dilakukan untuk melaksanakan Rencana Komprehensif untuk Mengakhiri Konflik Gaza. Mereka menyatakan bahwa peningkatan serangan dapat mengganggu proses perundingan yang sedang berlangsung dan menyerukan masyarakat internasional serta Board of Peace untuk mengambil langkah guna memastikan kepatuhan terhadap gencatan senjata.
Perkembangan diplomatik juga menunjukkan bahwa Mesir, Qatar, dan Turki masih memainkan peran penting sebagai mediator. Pada 16 Agustus, utusan Presiden AS Donald Trump, termasuk Jared Kushner dan Nickolay Mladenov, bertemu dengan para mediator Mesir, Qatar, dan Turki di Kairo untuk mendorong pelaksanaan rencana perdamaian Gaza. Dalam sejumlah pertemuan tersebut, pejabat Hamas juga ikut terlibat. Namun, perundingan masih menghadapi perbedaan mendasar mengenai urutan pelaksanaan kesepakatan, terutama mengenai pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Krisis diplomatik tersebut semakin rumit setelah Israel menyatakan penolakannya terhadap peta jalan untuk tahap berikutnya. Pada 16 Agustus, menteri luar negeri Mesir, Qatar, Turki, Indonesia, Yordania, Pakistan, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam penolakan Israel terhadap peta jalan tersebut. Mereka mengatakan bahwa penolakan itu mengancam upaya untuk mengakhiri perang dan menyerukan keterlibatan aktif Amerika Serikat guna memastikan Israel memenuhi komitmennya.
Mesir dan Turki kemudian kembali menekankan pentingnya pelaksanaan rencana perdamaian Gaza dalam pertemuan bilateral pada 20 Agustus 2026. Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyerukan kemajuan dalam pelaksanaan rencana perdamaian AS serta mendesak Israel memenuhi kewajibannya pada tahap pertama peta jalan.
Sikap ketiga negara tersebut juga bukan perkembangan yang sepenuhnya baru. Pada awal Agustus, Mesir, Qatar, dan Turki telah mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan Israel terhadap fasilitas kesehatan di Gaza dan korban sipil. Mereka menilai serangan terhadap fasilitas medis dan jatuhnya korban sipil merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional serta dapat mengancam pelaksanaan tahap kedua kesepakatan gencatan senjata.


