Al-Quds, Purna Warta – Pasukan Israel dan para pemukim terus meningkatkan serangan terhadap warga Palestina di berbagai wilayah Tepi Barat yang diduduki, dengan sejumlah insiden dilaporkan terjadi sepanjang malam hingga Sabtu.
Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa sebuah insiden penembakan terjadi pada Sabtu di Kota Al-Khalil (Hebron), yang mengakibatkan seorang bayi meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan tersebut.
Di lokasi lain di Tepi Barat yang diduduki, sekelompok pemukim Israel dilaporkan menyerang dan menculik sejumlah petani Palestina di Desa Atuf, tenggara Tubas.
Seorang pejabat setempat mengatakan bahwa para pelaku serangan mengenakan seragam militer Israel.
Sementara itu, di Deir Dibwan, sebelah timur Ramallah, pasukan Israel memasuki sebuah rumah warga Palestina ketika penghuni rumah tersebut berupaya menghadapi para pemukim yang mencoba menerobos masuk ke properti mereka.
Menurut keterangan warga setempat, para tentara kemudian mengurung penghuni rumah dalam satu ruangan dan memerintahkan mereka untuk menyingkirkan kamera yang merekam jalannya penggerebekan.
Laporan yang diterbitkan oleh Komisi Perlawanan terhadap Kolonisasi dan Tembok Palestina (CWRC) menyebut tahun 2025 sebagai “tahun pertumpahan darah” di Tepi Barat yang diduduki. Laporan tersebut mendokumentasikan lebih dari 23.800 serangan yang dilakukan pasukan Israel dan para pemukim terhadap warga Palestina.
Menurut laporan itu, serangan-serangan tersebut menyasar warga Palestina, rumah-rumah mereka, lahan pertanian, serta berbagai bentuk properti lainnya, dengan mayoritas insiden tercatat dilakukan oleh pasukan Israel.
CWRC juga mendokumentasikan penghancuran atau pencabutan hampir 35.000 pohon serta menyebut bahwa para pemukim menyebabkan ratusan kebakaran dan kerusakan properti dalam skala besar di wilayah pendudukan tersebut.
Komisi itu menyatakan bahwa perluasan permukiman Israel dan pengambilalihan lahan meningkat sepanjang tahun 2025, sementara operasi militer berskala besar menyebabkan ribuan warga Palestina mengungsi dari sejumlah kamp pengungsi.
Pada awal tahun 2026, badan intelijen dalam negeri Israel, Shin Bet, dilaporkan mengubah klasifikasi serangan pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki dari kategori “serangan teroris” menjadi “insiden serius”.
Langkah tersebut dinilai mempersempit definisi terorisme dan menurunkan prioritas penyelidikan terhadap kekerasan yang dilakukan para pemukim.
Menurut data resmi Palestina, sejak 7 Oktober 2023—ketika Israel melancarkan perang di Jalur Gaza—pasukan Israel dan para pemukim telah menewaskan sedikitnya 1.155 warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki, melukai sekitar 11.750 orang lainnya, serta menahan atau menangkap sekitar 22.000 warga Palestina.


