Al-Quds, Purna Warta – Tiga warga Palestina gugur dan lima lainnya terluka dalam 24 jam terakhir akibat serangan berkelanjutan yang dilakukan rezim pendudukan Israel terhadap Jalur Gaza. Pada saat yang sama, pasukan pendudukan terus melancarkan penembakan artileri dan serangan dari laut ke berbagai wilayah di Gaza, di tengah laporan media Ibrani yang mengungkap adanya persiapan untuk melanjutkan operasi militer skala besar.
Kementerian Kesehatan Gaza pada Rabu mengumumkan bahwa tiga jenazah korban syahid dan lima korban luka telah dibawa ke rumah sakit akibat serangan Israel yang terus berlanjut. Serangan tersebut merupakan bagian dari pelanggaran berulang terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah berlaku sejak Oktober 2025.
Di wilayah tengah Gaza, dua warga Palestina terluka akibat tembakan pasukan pendudukan, masing-masing di dekat Kamp Nuseirat dan di sekitar Kamp Maghazi. Bulan Sabit Merah Palestina menyatakan bahwa tim medisnya telah mengevakuasi seorang korban luka tembak dari bagian barat Kamp Nuseirat.
Saksi mata menyebutkan bahwa kapal perang Israel melepaskan tembakan ke arah pesisir Nuseirat, yang mengakibatkan seorang pemuda terluka dan kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah. Sementara itu, seorang remaja perempuan juga terluka akibat tembakan dari kendaraan militer Israel yang ditempatkan di sebelah timur Kamp Maghazi.
Dalam perkembangan terkait, artileri Israel membombardir kawasan timur kota Deir al-Balah dan Khan Younis. Angkatan laut Israel juga menembakkan beberapa proyektil ke arah pesisir Kota Gaza bersamaan dengan rentetan tembakan intensif di wilayah tersebut. Selain itu, kawasan timur laut Kota Gaza menjadi sasaran penembakan artileri, meskipun belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun luka-luka.
Dalam perkembangan yang menonjol, harian Ibrani Haaretz melaporkan bahwa Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, telah menyetujui rencana-rencana militer yang berkaitan dengan dimulainya kembali agresi terhadap Jalur Gaza. Surat kabar tersebut menambahkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, meminta militer meningkatkan tingkat kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kemungkinan perluasan operasi militer.
Menurut laporan itu, institusi militer Israel mengklaim bahwa gerakan Hamas telah berhasil membangun kembali sebagian kemampuan militernya. Klaim tersebut digunakan sebagai alasan untuk mendorong dimulainya kembali perang di Gaza.
Berdasarkan data dari Kantor Media Pemerintah Gaza, pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata sejak mulai diberlakukan telah menyebabkan 981 warga Palestina gugur dan 3.104 lainnya terluka.
Dengan dukungan Amerika Serikat, Israel terus melanjutkan perang dan agresinya terhadap Jalur Gaza, yang telah menyebabkan puluhan ribu korban syahid dan luka-luka, serta kehancuran luas yang menimpa sebagian besar infrastruktur dan fasilitas vital di wilayah tersebut.


