Al-Quds, Purna Warta – Rekaman CCTV menunjukkan awak kapal dari armada kedua yang berlayar dari pelabuhan Barcelona, Spanyol, yang membawa bantuan kemanusiaan ke warga Palestina di Gaza, mengangkat tangan mereka saat kapal tersebut disita secara ilegal oleh militer Israel di perairan internasional dekat pantai Yunani pada 30 April 2026.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyerukan kepada komunitas internasional untuk bertindak tegas guna menjamin pembebasan kapal-kapal armada Global Sumud Flotilla 2, serta mengecam intersepsi oleh Israel sebagai tindakan pembajakan terang-terangan dan terorisme negara.
Baghaei menggambarkan serangan terhadap kapal-kapal kemanusiaan di perairan internasional sebagai “pembajakan negara dan tindakan teroris,” serta mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk meminta pertanggungjawaban Israel. Ia menegaskan bahwa misi armada tersebut bertujuan menembus blokade Gaza dan menyalurkan bantuan yang menyelamatkan nyawa bagi rakyat Palestina.
Ia juga menyebut serangan terhadap konvoi tersebut sebagai serangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan hati nurani global. Baghaei menyerukan kepada seluruh negara, organisasi internasional, dan opini publik dunia untuk mengutuk pelanggaran hukum internasional yang terus dilakukan Israel, memastikan pembebasan segera para tahanan, serta mendukung penuh kampanye kemanusiaan untuk Gaza.
Militer Israel mencegat 22 kapal dari armada Global Sumud di perairan internasional dekat Yunani pada Rabu malam, ratusan mil dari Gaza. Menurut penyelenggara, kapal-kapal tersebut merupakan bagian dari misi Sumud kedua yang berangkat dari Barcelona untuk mengirim bantuan kemanusiaan.
Pasukan Israel dilaporkan menaiki kapal, merusak mesin, menghancurkan peralatan navigasi, serta mengganggu komunikasi sebelum meninggalkan sebagian kapal dalam kondisi terombang-ambing di jalur badai yang mendekat.
Sedikitnya 211 aktivis, termasuk seorang anggota dewan kota Paris, dilaporkan dibawa ke Israel, sementara pejabat Israel menyebut jumlah tahanan sebanyak 175 orang.
Gaza telah berada di bawah blokade Israel sejak 2007, yang semakin diperketat setelah perang pada Oktober 2023. Meskipun gencatan senjata rapuh diberlakukan sejak Oktober 2025, kondisi kemanusiaan terus memburuk.
Seorang pejabat PBB memperingatkan pekan ini bahwa populasi sekitar 2,1 juta jiwa menghadapi serangan berkelanjutan, dengan ketahanan pangan yang sangat rendah dan layanan dasar yang berada di ambang kehancuran.
Armada Global Sumud pertama sebelumnya dicegat pada Oktober 2025, ketika pasukan Israel menangkap lebih dari 450 orang, termasuk aktivis terkenal Greta Thunberg.
Dalam misi Sumud 2 saat ini, lebih dari 80 kapal awalnya berlayar dari Eropa Selatan, dengan setidaknya 22 kapal disita oleh angkatan laut Israel di dekat pulau Kreta.
Kecaman internasional pun bermunculan. Italia menuntut pembebasan segera warganya, Spanyol menyatakan penyitaan tersebut ilegal dan mendesak penangguhan kerja sama Uni Eropa dengan Israel, sementara Turki menyebut operasi tersebut sebagai “tindakan pembajakan.”


