Gaza, Purna Warta – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam rencana Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk memperluas kendali atas Gaza, dengan menegaskan bahwa seluruh wilayah tersebut adalah milik rakyat Palestina.
“Seratus persen Gaza harus menjadi milik rakyat Palestina,” kata juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric, kepada wartawan pada Jumat.
“Itulah yang ingin kami lihat, dan kami terus menyerukan agar Israel mundur dari pendudukannya, dari apa yang disebut ‘garis kuning’, dan itu akan tetap menjadi posisi kami,” tambahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Netanyahu mengatakan pada Kamis bahwa Israel saat ini menguasai sekitar 60 persen Jalur Gaza dan berencana memperluasnya menjadi 70 persen, tanpa memberikan rincian bagaimana perluasan tersebut akan dilakukan.
Militer Israel sebelumnya mengumumkan pada Oktober tahun lalu bahwa mereka menguasai 53 persen Gaza setelah melakukan penempatan ulang ke apa yang disebut “garis kuning” dalam fase pertama rencana yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang di wilayah tersebut.
Kesepakatan tersebut direncanakan mencakup penarikan lebih lanjut pasukan Israel pada fase kedua yang dimulai pada Januari.
“Garis kuning” adalah zona pemisah sementara di Gaza bagian timur yang membagi wilayah di bawah kendali militer Israel dengan wilayah tempat warga Palestina masih diizinkan tinggal.
Namun, sumber Palestina memperingatkan bahwa batas tersebut terus bergeser ke arah barat dalam beberapa bulan terakhir.
Bassem Naim, seorang pejabat senior dari gerakan perlawanan Palestina Hamas, mengatakan bahwa Israel telah mendorong garis tersebut sekitar 8 hingga 9 persen lebih jauh ke dalam Gaza, sehingga wilayah yang berada di bawah kendali Israel kini melebihi 60 persen.
Pasukan Israel juga dilaporkan memperluas jaringan tanggul tanah di sepanjang garis tersebut, menciptakan posisi yang lebih tinggi untuk pengawasan terhadap permukiman Palestina serta memberikan pandangan luas bagi awak tank dan penembak jitu di atas lanskap perkotaan Gaza yang telah hancur.
Sejak dimulainya serangan besar-besaran Israel di Gaza pada 7 Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan sedikitnya 172.000 lainnya terluka, sebagian besar di antaranya perempuan dan anak-anak.
Perang tersebut juga menghancurkan infrastruktur sipil Gaza, termasuk rumah sakit, sekolah, fasilitas olahraga, pembangkit listrik, jaringan air, dan kawasan permukiman di seluruh wilayah yang terkepung.
Kerusakan luas dan blokade yang terus berlanjut telah menyebabkan sebagian besar penduduk Gaza mengungsi, membuat warga Palestina terjebak di wilayah tersebut dan sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan yang hanya masuk dalam jumlah terbatas.


