Oposisi Israel Ejek “Doktrin Keamanan” Netanyahu sebagai Aksi Pencitraan Menjelang Pemilu

Doktrin

Al-Quds, Purna Warta – Para pejabat oposisi Israel secara tegas menolak “doktrin keamanan” baru yang diumumkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mereka menyebutnya sebagai kumpulan slogan kosong dan mengecam Netanyahu karena berusaha menggunakan dokumen tersebut untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan pemerintahannya, hanya sembilan hari menjelang pemilihan umum.
Menanggapi penerbitan dokumen tersebut pada Minggu, Gadi Eisenkot, pemimpin Partai Yashar sekaligus mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel, mengatakan bahwa dokumen itu memperlihatkan tidak adanya landasan strategis yang kredibel bagi keamanan rezim tersebut. Sementara itu, pemimpin Partai Yesh Atid, Yair Lapid, menyebut dokumen tersebut dangkal dan aneh.
Dokumen itu memuat 10 prinsip yang diklaim sebagai landasan keamanan rezim Israel. Isinya menganjurkan agresi lebih lanjut, pembentukan “zona penyangga” di kawasan regional, serta pengembangan militer yang lebih berorientasi pada serangan.
Dokumen tersebut mengklaim bahwa agresi Israel terhadap Iran telah berhasil “menggagalkan ancaman nuklir eksistensial yang segera terjadi”. Klaim ini kembali mengulang tuduhan yang terus digunakan Tel Aviv tanpa disertai bukti, dengan tujuan mendorong Amerika Serikat agar bergabung dalam perang melawan Republik Islam Iran.
Selain itu, dokumen tersebut menyatakan bahwa agresi Israel terhadap Gaza, Lebanon, dan Yaman telah efektif dalam “melemahkan” gerakan-gerakan perlawanan di kawasan.
Eisenkot mengecam Netanyahu karena melakukan manipulasi politik menjelang pemilu. Ia menyoroti bahwa dokumen tersebut diterbitkan hanya “sembilan hari sebelum pemilihan umum”.
Ia juga mengingatkan bahwa pemerintahan Netanyahu bertanggung jawab atas “kegagalan dan bencana paling serius dalam sejarah Israel”. Pernyataan tersebut merujuk pada kekalahan Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam menghadapi Operasi Banjir Al-Aqsa yang bersejarah, ketika para pejuang perlawanan yang berbasis di Gaza menyerbu wilayah pendudukan dan menangkap ratusan pemukim Zionis.
Eisenkot juga mengecam Netanyahu karena telah membuka jalan bagi gelombang serangan balasan tanpa henti terhadap rezim Israel. Menurutnya, berbagai kampanye agresi regional yang dilancarkan Israel setelah Operasi Banjir Al-Aqsa telah memicu serangan balasan dari berbagai arah, sehingga membuat “semua front berkobar”.
Ia menambahkan bahwa dokumen tersebut “tidak lebih dari dua halaman kosong yang berisi slogan-slogan tanpa hubungan apa pun dengan doktrin keamanan yang sesungguhnya”.
“Yang terpenting, dokumen ini memperlihatkan betapa kosongnya landasan strategis yang diwariskan Netanyahu kepada Israel, sekaligus menunjukkan pengabaiannya terhadap keamanan para pemukim ilegal,” kata Eisenkot.
Tokoh oposisi itu menyimpulkan bahwa Netanyahu sekali lagi berusaha memanipulasi opini para pemukim dan membangkitkan ketakutan mereka untuk mengalihkan perhatian dari berbagai kebohongan yang mewarnai kampanye pemilunya.
“Tampak seperti hasil kerja AI”
Lapid juga mempertanyakan kredibilitas dokumen tersebut. Ia mengatakan, “Bahkan menurut standar Netanyahu saat ini—yang ditandai oleh kelelahan dan keterputusan dari kenyataan—dokumen ini tampak dangkal dan aneh, seolah-olah ditulis menggunakan chatbot AI versi gratis.”
“Sangat sulit menganggap dua halaman berisi judul-judul besar sebagai sebuah ‘doktrin keamanan’. Secara keseluruhan, dokumen ini tidak lebih dari upaya untuk menghadapi berbagai kegagalan dan bencana yang menjadi tanggung jawab Netanyahu sendiri,” pungkas Lapid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *