Netanyahu di Ambang Kekalahan Historis: Partai Eisenkot Unggul dalam Survei Pemilu Israel

intikhab

Al-Quds, Purna Warta – Perbedaan dan keretakan politik di dalam rezim Israel memasuki tahap baru di tengah meningkatnya tantangan internal serta menumpuknya berbagai isu kontroversial yang memicu perpecahan politik.

Menurut laporan jaringan berita Al-Alam, hasil sebuah survei terbaru di Israel menunjukkan bahwa Partai Yashar yang dipimpin oleh Gadi Eisenkot, mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel, untuk pertama kalinya melampaui Partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam tingkat dukungan pemilih menjelang pemilihan Knesset.

Berdasarkan hasil survei yang dipublikasikan oleh Saluran 13 televisi Israel, apabila pemilu Knesset digelar dalam kondisi saat ini, Partai Eisenkot diperkirakan akan memperoleh 23 kursi. Jumlah tersebut meningkat tiga kursi dibandingkan survei pekan sebelumnya. Sementara itu, Partai Likud kehilangan satu kursi dan diperkirakan memperoleh 22 kursi.

Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa baik koalisi pendukung Netanyahu maupun kelompok oposisi belum memiliki mayoritas yang cukup untuk membentuk pemerintahan. Kondisi ini, apabila pemilu berlangsung berdasarkan situasi saat ini, berpotensi memperpanjang kebuntuan politik di Israel.

Dalam bagian lain survei tersebut, sebanyak 46 persen responden menilai Gadi Eisenkot sebagai sosok yang paling layak menjabat sebagai perdana menteri, sementara 36 persen memilih Benjamin Netanyahu sebagai kandidat yang dianggap paling sesuai untuk posisi tersebut.

Di sisi lain, Netanyahu masih menghadapi kritik luas dari dalam negeri terkait kegagalan keamanan sebelum Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, sebuah isu yang terus memberikan tekanan terhadap posisi politiknya.

Pada saat yang sama, konflik internal dalam koalisi pemerintahan masih berlangsung. Partai-partai yang tergabung dalam kabinet menghadapi perbedaan serius terkait cara menangani perang serta masa depan Jalur Gaza.

Sejumlah analis politik Israel berpendapat bahwa Netanyahu sedang menanggung dampak politik dari kebijakan-kebijakan regionalnya yang dianggap gagal.

Sementara itu, di Gaza, kelompok perlawanan Islam disebut masih melanjutkan perjuangannya menghadapi operasi militer Israel yang berlangsung lama. Menurut laporan tersebut, Tel Aviv belum berhasil menghilangkan kemampuan militer maupun politik kelompok perlawanan tersebut.

Di Lebanon, Hizbullah juga disebut masih mempertahankan kemampuan untuk memberikan respons meskipun Israel terus melakukan operasi militer di wilayah tersebut.

Di sisi lain, Iran masih memiliki kemampuan respons militer dan politik yang kuat, sementara aliansi Amerika Serikat dan Israel hingga kini dinilai belum mencapai sejumlah tujuan strategis yang mereka tetapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *