Miliki 10 Anak, Dokter Gaza Ini Kehilangan 9 Anaknya Akibat Serangan Terbaru Israel

Miliki 10 Anak, Dokter Gaza Ini Kehilangan 9 Anaknya Akibat Serangan Terbaru Israel

Gaza, Purna Warta Seorang dokter di Gaza yang memiliki 10 orang anak, telah kehilangan 9 anaknya akibat serangan terbaru Israel. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir, sebanyak 79 jenazah korban serangan udara Israel telah dibawa ke rumah sakit. Namun, jumlah ini belum termasuk korban dari wilayah Gaza utara yang sudah tidak bisa diakses karena kondisi yang sangat parah.

Satu Keluarga Hancur: Hanya Satu Anak Selamat

Salah satu kejadian paling memilukan adalah tewasnya 9 dari 10 anak milik seorang dokter anak bernama Alaa Najjar yang bekerja di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis.

Menurut Kepala Departemen Anak Rumah Sakit Nasser, dr. Ahmad al-Farra, Najjar saat itu sedang bertugas dan langsung pulang setelah mendengar rumahnya diserang. Ia menemukan rumahnya terbakar.

Suaminya mengalami luka parah, dan satu-satunya anak yang selamat—seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun—dalam kondisi kritis. Anak-anak yang tewas berusia antara 7 bulan hingga 12 tahun, dan dua di antaranya masih tertimbun puing-puing.

Penjelasan Militer Israel

Militer Israel mengklaim mereka menargetkan “kelompok bersenjata” yang berada di dekat pasukan mereka dan menyebut Khan Younis sebagai “zona perang berbahaya.” Mereka juga mengklaim telah mengosongkan wilayah tersebut dari warga sipil, namun mengatakan bahwa laporan tentang korban sipil masih “dalam penyelidikan.”

Sebelumnya pada hari Sabtu, militer Israel menyatakan telah menyerang lebih dari 100 target di seluruh Gaza dalam 24 jam terakhir.

Total Korban Perang Meningkat Tajam

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan bahwa total korban tewas sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023 telah mencapai 53.901 orang.

Sejak Israel melanjutkan serangan pada 18 Maret 2025, sebanyak 3.747 orang dilaporkan tewas. Data ini tidak membedakan antara warga sipil dan pejuang.

Para pekerja mengumpulkan sisa-sisa jenazah setelah serangan Israel menghantam sebuah rumah di Khan Younis pada hari Sabtu, menewaskan sembilan dari sepuluh anak seorang dokter saat ia sedang bekerja.
Para pekerja mengumpulkan sisa-sisa jenazah setelah serangan Israel menghantam sebuah rumah di Khan Younis pada hari Sabtu, menewaskan sembilan dari sepuluh anak seorang dokter saat ia sedang bekerja.

Blokade dan Krisis Bantuan Kemanusiaan

Sejak awal Maret, Israel memberlakukan blokade penuh terhadap lebih dari 2 juta penduduk Gaza. Dalam minggu ini, bantuan kemanusiaan mulai masuk lagi, namun jumlahnya sangat kecil dibandingkan masa gencatan senjata sebelumnya, di mana sekitar 600 truk bantuan masuk setiap harinya.

Karena kelaparan dan minimnya dapur umum, tekanan dari sekutu internasional membuat Israel akhirnya membuka sedikit jalur bantuan. Namun, sistem distribusi bantuan yang diusulkan oleh kelompok baru yang didukung AS ditolak oleh PBB karena dianggap melanggar prinsip kemanusiaan dan mempolitisasi makanan.

Serangan ke Rumah Sakit Berlanjut

Rumah sakit di Gaza kembali diserang. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa 11 petugas keamanan terjebak di Rumah Sakit Eropa di Gaza Selatan sejak hari Selasa karena tembakan dan serangan udara.

Menurut Saleh Hams, kepala keperawatan di rumah sakit tersebut, para pasien sudah dievakuasi sejak serangan pada 13 Mei. Namun, petugas keamanan tetap tinggal untuk mencegah penjarahan. Rumah sakit ini adalah satu-satunya di Gaza yang masih mampu melakukan operasi otak, perawatan jantung, dan kanker.

Tuntutan Israel dan Sikap Hamas

Israel mengatakan akan terus menyerang Gaza hingga Hamas membebaskan 58 sandera Israel yang tersisa dan menyerahkan senjata mereka. Dari jumlah tersebut, diduga kurang dari setengahnya masih hidup sejak serangan 7 Oktober lalu, di mana sekitar 1.200 orang tewas dan 251 orang diculik.

Hamas bersikeras bahwa mereka hanya akan membebaskan sandera jika Israel setuju untuk:

  • Membebaskan lebih banyak tahanan Palestina

  • Melakukan gencatan senjata permanen

  • Menarik pasukan dari Gaza

Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak syarat tersebut dan bersikeras mempertahankan kontrol atas Gaza, bahkan menyuarakan rencana agar sebagian besar warga Palestina “secara sukarela” pindah dari wilayah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *