Al-Quds, Purna Warta – “Itamar Ben-Gvir”, menteri keamanan dalam negeri ekstremis rezim Zionis, menyerukan dimulainya kembali perang dengan Lebanon.
Ben-Gvir menulis di akun media sosial “X” miliknya:
“Normalisasi dan menerima kenyataan adanya drone-drone bunuh diri adalah hal yang tidak dapat diterima. Sudah tiba waktunya bagi Benjamin Netanyahu, perdana menteri, untuk mengetuk meja Donald Trump dan memberitahunya bahwa kami akan kembali berperang di Lebanon.”
Dikutip dari IRNA, menteri garis keras Zionis itu melanjutkan pernyataan provokatifnya dengan mengatakan:
“Kita harus memutus aliran listrik Lebanon, menduduki Dahiyeh, dan kembali ke perang yang menyeluruh serta intens.”
Bersamaan dengan pernyataan tersebut, tentara rezim Zionis mengeluarkan sebuah pernyataan yang menjelaskan rincian infiltrasi sebuah drone bunuh diri Hizbullah ke wilayah pendudukan.
Dalam pernyataan tentara pendudukan disebutkan bahwa setelah sirene peringatan diaktifkan terkait infiltrasi drone-drone musuh ke beberapa wilayah di utara Palestina pendudukan, Hizbullah meluncurkan beberapa drone bunuh diri ke arah pasukan tentara dan wilayah pendudukan. Akibatnya, satu drone terpantau menghantam kawasan Al-Mutalla, dan penyelidikan atas insiden tersebut masih berlangsung.
Terkait hal ini, Channel 14 televisi rezim Zionis melaporkan bahwa hantaman dan ledakan drone tersebut di permukiman Zionis “Al-Mutalla” telah menimbulkan gelombang kepanikan besar di kalangan warga Zionis.
Seiring perkembangan tersebut dan menyusul masuknya drone-drone Perlawanan Islam Lebanon ke wilayah utara Palestina pendudukan, sirene bahaya dibunyikan di permukiman “Shomira” di kawasan Galilea Barat.
Dalam perkembangan lain, tentara pendudukan mengeluarkan peringatan evakuasi bagi penghuni sebuah bangunan di kawasan Al-Rashidiyah, wilayah Tyre, Lebanon selatan.
Pernyataan Ben-Gvir ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan Lebanon–Israel, terutama setelah serangkaian serangan drone dan roket lintas batas antara Hizbullah dan militer Israel dalam beberapa bulan terakhir. Hizbullah sebelumnya mengklaim sejumlah operasi terhadap posisi militer Israel di Galilea dan wilayah utara Palestina pendudukan sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon selatan.
Sementara itu, sejumlah negara dan organisasi internasional telah berulang kali memperingatkan bahwa eskalasi besar antara Israel dan Hizbullah dapat memicu perang regional yang lebih luas. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyerukan penahanan diri dari kedua pihak untuk mencegah memburuknya situasi keamanan di kawasan tersebut.


