Doha, Purna Warta – Menurut beberapa analisa, taktik militer terbaru yang diterapkan oleh Teheran telah memperlihatkan adanya kesenjangan besar antara uji coba teoritis sistem pertahanan udara Israel dan kinerjanya di medan tempur.
Baca juga: Kegagalan Kesepakatan Perdamaian Trump di Kaukasus di Tengah Perkembangan Timur Tengah
Masuknya “Amunisi Klaster” ke Tahap Baru Konflik
Dalam laporannya, Al Jazeera menyebutkan bahwa konfrontasi militer kini memasuki fase yang lebih kompleks dengan penggunaan amunisi klaster atau bom yang terpecah di udara.
Perkembangan ini menunjukkan perubahan kualitatif dalam taktik serangan Iran sekaligus meningkatnya kesulitan sistem pertahanan udara Israel dalam menghadapi jenis persenjataan tersebut.
Pola Serangan Tidak Konvensional
Al Jazeera juga menguraikan salah satu gelombang serangan terbaru yang dinilai memiliki pola tidak biasa.
Menurut laporan tersebut, sebuah rudal Iran setelah mencapai wilayah target di Tel Aviv terpecah menjadi empat bom terpisah.
Setiap bagian memiliki berat sekitar 100 kilogram dan menyebarkan pecahan logam di beberapa titik berbeda, yang menyebabkan kerusakan luas serta ledakan beruntun.
Serangan semacam itu dilaporkan menyulitkan tim penyelamat dan memperlambat operasi evakuasi selama berjam-jam.
Analisis Pakar Militer
Analis militer Abdel Qader Arada menjelaskan bahwa karakter utama serangan terbaru bukan hanya intensitasnya, tetapi juga sifat teknologi persenjataan yang digunakan.
Ia menyatakan bahwa sistem senjata tersebut dirancang dengan teknik fragmentasi atau pemecahan di udara, sehingga mampu mengatasi sistem pertahanan udara Israel dengan lebih efektif.
Baca juga: Majelis Umum PBB Sahkan Resolusi Anti-Perbudakan; Negara Mana yang Memberi Suara Penolakan?
Tantangan terhadap Sistem “David’s Sling”
Menurut analis tersebut, sebelum konflik dimulai Israel telah menguji sistem pertahanan udara David’s Sling untuk menghadapi skenario serupa.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa di bawah tekanan serangan simultan dan intens dari Iran, sistem pertahanan tersebut mengalami kesenjangan besar antara kemampuan teoritis dan kinerja operasional.
Ia menilai bahwa volume dan variasi sistem persenjataan rudal Iran telah membuat sistem pertahanan udara Rezim kesulitan menghadapi serangan tersebut secara efektif.


