Mantan PM Israel: Netanyahu Gagal di Gaza dan Lebanon

Naftali

Al-Quds, Purna Warta – Mantan Perdana Menteri rezim Israel, Naftali Bennett, menyoroti kegagalan di medan perang dan menyatakan bahwa Tel Aviv gagal membubarkan Hamas di Gaza maupun Hizbullah di Lebanon.

Bennett menegaskan bahwa kabinet Israel tidak berhasil mengakhiri konflik dengan Hamas dan Hizbullah, serta menyebut bahwa masyarakat Israel tidak puas dengan kinerja pemerintah saat ini.

Ia mengatakan bahwa penduduk di wilayah garis depan menginginkan hasil yang tegas dan berakhirnya konflik berulang. Menurutnya, meskipun militer Israel telah mencapai beberapa keberhasilan taktis, kabinet tidak mampu membubarkan Hamas maupun Hizbullah.

Bennett juga menyebut bahwa Hizbullah tengah membangun kembali kekuatannya di Lebanon selatan, sementara Iran tetap mempertahankan apa yang ia sebut sebagai “front persatuan”. Ia menambahkan bahwa pemerintahan Benjamin Netanyahu telah mengecewakan harapan masyarakat Israel.

Selain itu, ia mengklaim bahwa Hamas kembali menguasai Jalur Gaza, mampu memobilisasi sekitar 30.000 pejuang, serta menerima ratusan truk bantuan setiap hari.

Mantan pejabat tersebut juga menyindir pernyataan pejabat Israel yang sebelumnya menyebut akan “mengembalikan musuh ke zaman batu”, dengan mengatakan bahwa narasi tersebut sudah tidak lagi dapat dipercaya.

Bennett menegaskan bahwa masyarakat Israel “lelah dengan kata-kata” dan menyerukan perubahan pemerintahan untuk melakukan reformasi. Ia menyatakan bahwa Israel membutuhkan kepemimpinan yang mampu membawa kemenangan nyata.

Pernyataan Bennett ini merujuk pada target yang sebelumnya dicanangkan oleh Netanyahu, yaitu menghancurkan Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon sebagai prioritas perang regional Israel. Namun, menurutnya, kedua kelompok tersebut masih tetap mempertahankan kekuatan di wilayah masing-masing.

Tekanan Politik dan Keamanan Israel

Pernyataan keras mantan Perdana Menteri Israel ini muncul di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap pemerintahan Netanyahu, yang sebelumnya juga dilaporkan membatalkan rapat kabinet mingguan di tengah ketegangan regional yang meningkat.

Situasi ini terjadi bersamaan dengan eskalasi konflik yang masih berlangsung di Gaza serta ketegangan di perbatasan utara dengan Lebanon. Kondisi tersebut memperburuk perdebatan internal di Israel terkait strategi perang, keamanan nasional, dan efektivitas operasi militer yang telah berlangsung dalam jangka panjang.

Dalam perkembangan lain, laporan-laporan internasional juga menyebutkan adanya ketidakpuasan di dalam negeri Israel terhadap arah kebijakan pemerintah, terutama terkait tidak tercapainya tujuan utama perang yang dicanangkan sejak awal eskalasi konflik.

Di tingkat regional, ketegangan dengan Iran serta dinamika di Selat Hormuz turut memperluas tekanan strategis terhadap Israel dan sekutunya, termasuk Amerika Serikat, yang masih terlibat dalam upaya diplomatik dan militer di berbagai front konflik di Timur Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *