Laporan: Krisis Tenaga Manusia di Militer Israel Memburuk Menjelang Pendudukan Gaza

Tentara Israel

Washington, Purna Warta – Sebuah laporan media Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kelelahan dan kekecewaan yang melanda militer Israel telah mengancam untuk “memperumit” rencana Tel Aviv dalam serangan mendatang untuk merebut dan menduduki Kota Gaza.

Sekitar belasan perwira dan prajurit mengatakan kepada The New York Times pada Kamis bahwa terdapat unit-unit yang terkuras dan kelelahan di tubuh militer Israel.

“Tidak jelas berapa banyak dari mereka yang akan kembali bertempur,” kata sumber tersebut, sembari memperkirakan bahwa 40 hingga 50 persen rekan-rekan mereka tidak hadir untuk bertugas.

Seorang prajurit mengatakan bahwa kompinya yang berjumlah 100 orang kini menyusut menjadi hanya 60 tentara. Prajurit lain mengatakan hanya separuh timnya yang hadir saat panggilan tugas cadangan akhir tahun lalu.

Beberapa prajurit mengaku keluar dari dinas militer karena berkeyakinan bahwa “perang ini tidak lagi adil.”

Segelintir prajurit telah dijatuhi hukuman karena mangkir dari tugas, sementara sebagian lainnya harus menjalani hukuman penjara singkat.

Sumber-sumber Israel mengonfirmasi bahwa penolakan Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, terhadap rencana pendudukan sebagian disebabkan oleh kondisi kebugaran prajurit.

“Kekurangan personel akan membuat penyelesaian ofensif semakin sulit,” tambah sumber itu.

Zamir juga menyuarakan kekhawatiran atas bahaya yang ditimbulkan terhadap para tawanan Israel serta beban berat yang akan ditanggung oleh militer.

Analis militer Israel sekaligus cadangan angkatan udara, Omer Dank, mengatakan:

“Kami terus mencoba memeras apa pun yang bisa kami lakukan tanpa perencanaan strategis yang nyata. Model saat ini tidak berkelanjutan. Militer sudah kelelahan.”

Analis lain juga menyoroti bahwa para pasukan cadangan telah menjalani ratusan hari tugas, yang berdampak negatif terhadap kehidupan keluarga, pendidikan, dan pekerjaan mereka.

Akibat krisis tenaga manusia ini, pengadilan tinggi Israel tahun lalu memerintahkan wajib militer bagi pelajar ultra-Ortodoks yang selama bertahun-tahun dibebaskan dari dinas militer.

Hal ini memicu krisis politik di Israel, di mana partai-partai ultra-Ortodoks menuntut undang-undang pengecualian, bahkan sebagian di antaranya menarik dukungan dari koalisi sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang rapuh.

Radio Militer Israel pekan lalu melaporkan bahwa militer sedang mempertimbangkan rencana untuk merekrut pemuda Yahudi dari luar negeri guna mengatasi kekurangan prajurit yang parah.

Rencana itu menargetkan komunitas Yahudi besar di luar negeri, khususnya di Amerika Serikat dan Prancis, untuk merekrut sekitar 700 orang per tahun.

Rezim Israel juga dilaporkan berusaha menarik sekitar 30.000 pencari suaka asal Afrika dengan menawarkan izin tinggal permanen di wilayah pendudukan sebagai imbalan bergabung ke dalam militer.

Kekurangan tenaga ini semakin memperburuk masalah lain di tubuh angkatan bersenjata Israel, termasuk defisit peralatan dan sistem cadangan yang terkuras akibat pertempuran berbulan-bulan di Gaza.

Banyak tentara cadangan juga melaporkan masalah psikologis dan kelelahan yang terkait dengan agresi Israel terhadap Jalur Gaza yang terkepung.

Sebuah investigasi militer Israel baru-baru ini menemukan adanya peningkatan kasus bunuh diri di kalangan prajurit, dengan mayoritas kasus terkait langsung pada trauma psikologis mendalam dan paparan kondisi ekstrem selama perang di Gaza.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar bunuh diri disebabkan oleh paparan berkepanjangan terhadap pertempuran, pengalaman traumatis di medan perang, dan beban psikologis akibat kehilangan rekan seperjuangan.

Dengan perang Israel di Gaza yang memasuki bulan ke-22, semakin banyak tentara melaporkan pengalaman trauma perang, masalah keluarga, serta tekanan psikologis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *