Laporan Haaretz tentang Kasus Kebohongan Netanyahu: Apakah Kita Tinggal Selangkah Lagi dari Kemenangan?

kebohongan

Al-Quds, Purna Warta – Surat kabar Haaretz dalam serangkaian laporannya membahas kebohongan Benjamin Netanyahu dalam beberapa waktu terakhir.

urat kabar yang memiliki banyak pembaca di rezim Zionis tersebut dalam konteks ini berupaya menjawab pertanyaan: apakah benar, sebagaimana diklaim Netanyahu, Israel memang hanya tinggal selangkah lagi dari kemenangan penuh?

Tulisan tersebut dibuka dengan pernyataan: Netanyahu berulang kali mengklaim bahwa kemenangan menentukan dan penuh atas Hamas dapat dicapai dan sudah sangat dekat. Namun, setelah sekitar tiga tahun perang berlangsung, kelompok tersebut masih aktif dan bersenjata, sementara tentara Israel masih terjebak jauh di dalam Jalur Gaza. Mari kita menelaah fakta-fakta ini secara lebih terperinci.

Sejak kegagalan operasi 7 Oktober (Operasi Badai Al-Aqsa) dan selama dua tahun perang berdarah tersebut, perdana menteri berulang kali menegaskan (mengklaim) bahwa Israel hanya tinggal selangkah lagi dari “kemenangan penuh” atas Hamas. Netanyahu bukan hanya berulang kali berkomitmen, dengan berbagai ungkapan, bahwa kemenangan penuh dapat dicapai, tetapi dalam berbagai kesempatan ia juga mengklaim bahwa pasukan Israel hanya membutuhkan beberapa minggu lagi untuk menyelesaikan misi tersebut.

Namun, kenyataan berulang kali membuktikan bahwa klaim tersebut terus kehilangan validitas dan tidak sesuai dengan kenyataan.

Dua bulan setelah perang dimulai, dalam upacara penyalaan lilin pertama pada hari raya Hanukkah yang digelar pada 7 Desember 2023 di Tembok Ratapan, Netanyahu menyatakan: “Kami akan segera meraih kemenangan penuh atas kekuatan jahat dan mengembalikan keamanan bukan hanya ke selatan, tetapi juga ke utara.”

Empat bulan kemudian, pada April 2024, Netanyahu pada awal rapat kabinet menyatakan: “Kami hanya tinggal selangkah lagi dari kemenangan” di Gaza.

Pada Agustus 2025, Netanyahu dan para menteri kabinetnya menetapkan lima tujuan yang harus dicapai untuk mengakhiri perang: pelucutan senjata Hamas, pemulangan seluruh sandera (tawanan), demiliterisasi penuh Jalur Gaza, pengendalian keamanan permanen Israel atas Jalur Gaza, serta pembentukan pemerintahan sipil alternatif yang bukan Hamas maupun Otoritas Palestina.

Haaretz kemudian menulis: Pada Oktober, kesepakatan gencatan senjata ditandatangani, tetapi hingga saat ini—setelah hampir satu tahun berlalu—Hamas belum dikalahkan. Gerakan tersebut menolak melucuti senjatanya, sementara militer Israel terus mempertahankan kendalinya atas sebagian besar Jalur Gaza (di luar Garis Kuning yang ditetapkan dalam kesepakatan) dan hampir setiap hari melancarkan serangan terhadap sasaran serta pasukan gerakan tersebut.

Bahkan, militer Israel memperkirakan bahwa Hamas telah memanfaatkan periode terakhir ini untuk membangun kembali kemampuan militernya.

Pada Januari 2026, “Dewan Perdamaian” didirikan atas prakarsa Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Lembaga internasional yang dipimpin Amerika Serikat tersebut direncanakan akan mengelola Jalur Gaza melalui sebuah komite yang terdiri atas para teknokrat Palestina.

Pada akhir Juli 2026, Dewan Perdamaian dan Hamas mencapai kesepakatan mengenai rencana pelucutan senjata gerakan tersebut. Langkah ini diharapkan akan diikuti oleh penarikan pasukan Israel dan pengalihan administrasi Jalur Gaza kepada “Komite Nasional untuk Administrasi Gaza”. Namun, hingga kini belum ditetapkan tanggal dimulainya tugas komite tersebut, sementara Hamas masih menguasai wilayah yang berada di sebelah barat Garis Kuning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *