Kesepakatan Iran–AS; Mimpi Buruk Baru bagi Rezim Zionis dan Kegagalan Netanyahu

Tawafuq

Al-Quds, Purna Warta – Ruang media Israel saat ini dipenuhi suasana kekhawatiran, kebingungan, dan kritik terhadap pendekatan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sejumlah analis menilai bahwa apabila kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat benar-benar terwujud, maka rezim Zionis akan dipaksa untuk mematuhi secara penuh perjanjian gencatan senjata di Lebanon.

Dalam salah satu episode program Al-‘Ain al-Israiliyyah yang disiarkan oleh jaringan berita Al-Alam, dibahas bagaimana para analis dan media berbahasa Ibrani menyoroti berbagai isu penting, khususnya perundingan yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat, serta pembicaraan antara rezim Zionis dan pejabat Lebanon terkait situasi di Lebanon selatan.

Dalam program tersebut, Dr. Ali Shukr, pakar hukum internasional asal Lebanon, menegaskan bahwa untuk menilai arah perundingan secara objektif, perhatian utama harus diberikan kepada posisi resmi Republik Islam Iran dan juga peran mediator Pakistan. Menurutnya, pada tahap-tahap sebelumnya Washington beberapa kali menarik diri dari sejumlah komitmen dan kesepahaman yang sebelumnya telah diumumkan.

Ia menjelaskan bahwa berbagai indikator menunjukkan kedua pihak semakin dekat kepada suatu kerangka kesepahaman. Meskipun masih terdapat sejumlah rincian teknis dan hukum yang perlu diselesaikan, keseluruhan perkembangan yang ada mengindikasikan bahwa perundingan telah mendekati tahap finalisasi kesepakatan.

Mengenai hasil yang mungkin muncul dari kesepakatan tersebut, Dr. Shukr menilai bahwa situasi ini tidak dapat digambarkan sebagai persamaan “sama-sama menang” (win-win solution). Menurutnya, Iran berhasil mempertahankan prinsip-prinsip dan garis kebijakan utamanya, sekaligus tetap bertahan menghadapi tekanan politik dan militer, hingga pada akhirnya memaksa Amerika Serikat menerima sebagian realitas baru yang terbentuk di kawasan.

Ia juga menyoroti reaksi media Israel terhadap perkembangan tersebut. Menurutnya, banyak analis Israel memandang kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran sebagai sesuatu yang merugikan Tel Aviv. Mereka menilai Washington sedang memberikan sejumlah konsesi kepada Teheran yang selama ini berusaha dicegah oleh Israel.

Dr. Shukr menambahkan bahwa berbagai tujuan yang selama ini diumumkan oleh Israel terhadap Iran—seperti membatasi sepenuhnya program nuklir Iran dan mengurangi pengaruh regional Teheran—belum berhasil dicapai secara menyeluruh. Kegagalan mencapai tujuan-tujuan tersebut menjadi salah satu sumber utama kekhawatiran di kalangan politik dan media Israel.

Dalam bagian lain wawancara tersebut, ia membahas dampak potensial kesepakatan Iran–AS terhadap Lebanon. Menurutnya, selama beberapa bulan terakhir Israel berupaya memisahkan isu Lebanon dari perundingan Iran–AS, namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil.

Ia menjelaskan bahwa melalui berbagai perkembangan terbaru dan respons Iran terhadap tindakan Israel, Teheran berhasil membentuk sejumlah persamaan strategis baru di kawasan. Persamaan tersebut, menurutnya, telah menghalangi Israel memanfaatkan front Lebanon sebagai alat tekanan terhadap Republik Islam Iran.

Dr. Shukr juga memperkirakan bahwa jika kesepahaman antara Teheran dan Washington benar-benar disahkan, maka Israel akan dipaksa untuk mematuhi gencatan senjata di Lebanon secara penuh. Selain itu, proses penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon diperkirakan akan menjadi bagian dari pembahasan dalam kesepakatan-kesepakatan berikutnya.

Dalam komentarnya mengenai hubungan antara pemerintah Lebanon dan Israel, yang oleh sebagian analis Israel dipuji sebagai langkah positif, ia justru menyampaikan kritik keras. Menurutnya, tidak ada pemerintah atau negara berdaulat yang dapat memberikan legitimasi terhadap pendudukan sebagian wilayahnya sendiri.

Ia menegaskan bahwa setiap bentuk kehadiran pasukan pendudukan di wilayah Lebanon bertentangan dengan prinsip kedaulatan nasional, konstitusi negara, dan hukum internasional. Oleh karena itu, selama pendudukan masih berlangsung, perlawanan tetap memiliki legitimasi.

Dr. Shukr juga menolak berbagai spekulasi yang muncul di media Israel mengenai kemungkinan pelucutan senjata Hezbollah. Menurutnya, selama pendudukan masih ada, tidak ada kekuatan yang mampu menghapus gerakan perlawanan dari realitas politik dan sosial kawasan.

Ia menambahkan bahwa pengalaman sejarah menunjukkan gerakan-gerakan perlawanan tumbuh dari realitas lapangan dan tuntutan masyarakat. Karena itu, keberadaannya tidak dapat diakhiri hanya melalui tekanan militer ataupun politik.

Menutup pernyataannya, Dr. Ali Shukr menyampaikan harapan agar perundingan yang sedang berlangsung dapat menghasilkan kerangka yang berkelanjutan untuk mengurangi ketegangan di kawasan, menghentikan agresi, serta memperkuat keamanan dan stabilitas di Lebanon maupun kawasan secara umum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *