Gaza, Purna Warta – Militer Israel melancarkan serangan terhadap Jalur Gaza pada hari pertama tahun 2026, dalam pelanggaran terbaru terhadap perjanjian gencatan senjata yang bertujuan mengakhiri genosida rezim tersebut yang telah berlangsung selama dua tahun di wilayah yang diblokade itu.
Serangan udara dan tembakan artileri Israel terjadi pada Kamis di berbagai wilayah Gaza, di tengah kondisi hujan musim dingin lebat yang dalam beberapa pekan terakhir telah membanjiri tenda-tenda pengungsi Palestina dan merenggut nyawa anak-anak akibat hipotermia.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa jet tempur Israel menargetkan Rafah bagian timur di Jalur Gaza selatan, sementara pasukan pendudukan secara bersamaan melepaskan tembakan artileri.
Di wilayah yang sama, laporan tersebut menambahkan, ledakan keras terdengar di tengah tembakan sporadis dari kendaraan militer Israel.
Serangan Israel serupa juga dilaporkan terjadi di lingkungan Zeitoun dan Shujaiya di Kota Gaza, serta di wilayah timur kamp pengungsi Bureij di Jalur Gaza bagian tengah.
Pada 10 Oktober, perjanjian gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat mulai berlaku antara Israel dan Hamas, dengan tujuan mengakhiri perang genosida rezim Tel Aviv di Gaza yang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Sejak saat itu, sedikitnya 415 warga Palestina tewas, dan 1.152 orang lainnya terluka, sementara Tel Aviv terus melancarkan serangan udara di wilayah tersebut.
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang rapuh itu, Israel diwajibkan untuk mengizinkan masuknya “bantuan penuh” ke Gaza secara segera.
Namun, awal pekan ini, rezim tersebut melarang 37 lembaga kemanusiaan internasional untuk beroperasi di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Para menteri luar negeri dari 10 negara—termasuk Kanada, Inggris, Denmark, Finlandia, Prancis, Islandia, Jepang, Norwegia, Swedia, dan Swiss—menyampaikan “keprihatinan serius” atas “memburuknya kembali situasi kemanusiaan” di Gaza.
Dalam sebuah pernyataan, mereka memperingatkan kondisi “katastropik” di wilayah Palestina yang diblokade tersebut, seraya menyebutkan bahwa 1,3 juta orang masih membutuhkan dukungan tempat tinggal darurat, lebih dari setengah fasilitas kesehatan hanya berfungsi sebagian dan menghadapi kekurangan peralatan serta pasokan medis esensial, sementara runtuhnya total infrastruktur sanitasi telah membuat 740.000 orang rentan terhadap banjir beracun.
Dalam perangnya di Gaza, Israel telah menewaskan sedikitnya 71.269 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai 171.232 orang lainnya.


