Harga Minyak Dunia Melonjak setelah Pernyataan Bermusuhan Donald Trump

Oli

Tehran, Purna Warta –  Harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 5 persen setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman (memorandum of understanding) antara Amerika Serikat dan Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu wilayah penghasil minyak terbesar di dunia.

Baca juga: CNN: Menteri Pertahanan AS Lakukan Kunjungan Mendadak ke Israel; Hegseth Tinggalkan Delegasi AS di KTT NATO dan Bertolak ke Tel Aviv

Menurut laporan Kantor Berita Mehr, yang mengutip Reuters, harga minyak dunia melonjak secara tiba-tiba hingga sekitar 5 persen, mendekati 78 dolar AS per barel, setelah Trump mengumumkan berakhirnya kesepahaman dengan Iran.

Dalam pernyataannya di Ankara, Trump mengatakan bahwa dirinya tidak lagi ingin melanjutkan hubungan maupun interaksi dengan Iran. Ia juga menyatakan bahwa nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran telah berakhir.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat kembali menggunakan retorika keras terhadap para pejabat Iran, yang menurut media Iran bertentangan dengan norma diplomasi internasional dan telah menjadi bagian dari gaya komunikasi politik Trump.

Sehari sebelumnya, setelah militer Amerika Serikat melancarkan beberapa serangan terhadap wilayah selatan Iran, harga minyak dunia dilaporkan naik sekitar 3 persen. Sebelumnya lagi, ketika Amerika Serikat mencabut izin yang berkaitan dengan penjualan minyak Iran, harga minyak global juga meningkat sekitar 3 persen.

Latar Belakang 

Pasar energi global sangat sensitif terhadap perkembangan keamanan di Timur Tengah karena kawasan tersebut menyumbang sekitar sepertiga produksi minyak dunia. Setiap peningkatan ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, maupun Israel biasanya langsung memengaruhi harga minyak akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi internasional.

Selain itu, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Setiap ancaman terhadap keamanan jalur tersebut cenderung mendorong kenaikan harga minyak karena meningkatnya risiko terhadap distribusi energi global.

Dalam beberapa bulan terakhir, kebijakan pemerintahan Trump terhadap Iran kembali mengarah pada peningkatan tekanan melalui sanksi ekonomi, pembatasan ekspor minyak, serta ancaman penghentian berbagai bentuk kerja sama. Langkah-langkah tersebut dinilai meningkatkan ketidakpastian di pasar energi internasional.

Baca juga: Sistem Komando Israel Identifikasi 850.000 Target Selama Perang di Gaza dan Lebanon, Menurut Perusahaan Pemasok

Para analis energi menyatakan bahwa lonjakan harga minyak setelah pernyataan Trump lebih dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap risiko geopolitik dibandingkan perubahan langsung pada pasokan minyak. Investor umumnya bereaksi cepat terhadap setiap perkembangan yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah, sehingga harga minyak dapat mengalami kenaikan tajam meskipun belum terjadi gangguan fisik terhadap produksi atau distribusi minyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *