Al-Quds, Purna Warta – Gerakan perlawanan Palestina Hamas menegaskan bahwa terbunuhnya kolaborator Israel sekaligus pemimpin kelompok terkait Daesh, Yasser Abu Shabab, merupakan nasib yang tak terelakkan bagi siapa pun yang memilih mengkhianati rakyat dan tanah airnya serta bekerja sama dengan rezim pendudukan Israel.
Radio militer Israel pada Kamis mengumumkan bahwa Abu Shabab tewas oleh kelompok bersenjata tak dikenal di Rafah, Gaza selatan—wilayah yang saat ini berada di bawah kendali penuh Israel.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan kemudian, Hamas menyatakan bahwa rezim Israel gagal melindungi para agennya, menegaskan bahwa siapa pun yang merusak keamanan rakyatnya dan melayani musuh mereka “akan berakhir di tempat sampah sejarah dan kehilangan segala bentuk kehormatan atau kedudukan.”
Hamas menekankan pentingnya persatuan rakyat Palestina untuk menggagalkan konspirasi Israel, seraya memuji keluarga, suku, dan klan yang telah melepaskan diri dari Yasser Abu Shabab dan para komplotannya.
Hamas menyebut tindakan kriminal yang dilakukan Abu Shabab dan kelompoknya—dalam koordinasi dengan militer Israel—sebagai “penyimpangan terang-terangan dari identitas nasional dan sosial,” serta tidak mencerminkan nilai maupun tradisi rakyat Palestina.
Kelompok terisolasi ini “hanya mewakili dirinya sendiri,” tegas Hamas.
Hamas juga menegaskan bahwa penggunaan milisi lokal oleh Israel mencerminkan “ketidakberdayaannya menghadapi keteguhan rakyat Palestina dan perlawanan mereka yang gagah berani.”
Abu Shabab muncul selama perang genosidal dua tahun sebagai kepala kelompok yang disebut Pasukan Populer, yang terlibat dalam penjarahan bantuan, pembunuhan atau penculikan warga sipil Palestina dan pejuang Hamas, serta bekerja sama dengan pasukan Israel.
Pasukan Populer pimpinan Abu Shabab telah dikecam luas oleh berbagai faksi Palestina, yang menyebut kelompok tersebut sebagai “pengkhianat” dan mengaitkannya dengan Israel serta Daesh.
Perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah mengakui bahwa geng Abu Shabab dipersenjatai oleh Israel. Seorang sumber Palestina mengatakan kepada Kan News bulan lalu bahwa rekan-rekan Abu Shabab bahkan pernah mengikuti pertemuan dengan pejabat senior AS.
Israel melancarkan perang genosida di Gaza pada Oktober 2023, menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut, membuat hampir seluruh penduduknya terlantar.


