Hamas Kecam Retorika Israel soal Peningkatan Kekuatan Militer di Gaza sebagai “Hasutan”

Gaza incitement

Gaza, Purna Warta – Gerakan perlawanan Palestina Hamas memperingatkan terhadap klaim Israel mengenai pesatnya peningkatan kekuatan militer kelompok tersebut, dengan menyebutnya sebagai “hasutan yang nyata” yang bertujuan membenarkan serangan yang terus berlanjut serta pelanggaran gencatan senjata setiap hari di Jalur Gaza.

Baca juga: Israel Menewaskan Lebih Banyak Warga Gaza dan Menghancurkan Bangunan dalam Pelanggaran Gencatan Senjata Terbaru

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, dalam pernyataan yang dirilis pada hari Minggu, mendesak berbagai organisasi media untuk memverifikasi informasi yang berasal dari rezim Tel Aviv. Ia juga memperingatkan agar tidak menyebarluaskan narasi yang dapat memicu permusuhan terhadap kelompok-kelompok perlawanan Palestina maupun penduduk sipil di Gaza.

Qassem menegaskan bahwa Hamas, bersama kelompok-kelompok perlawanan lainnya di Gaza, berkomitmen penuh terhadap perjanjian gencatan senjata. Ia juga menyerukan kepada negara-negara mediator dan pihak-pihak penjamin agar memastikan Israel mematuhi kewajibannya serta menghentikan berbagai pelanggaran yang dilakukannya.

Menurut laporan Channel 12 Israel, para pejabat Israel memperkirakan bahwa pertempuran di Gaza dapat kembali pecah dalam waktu dua bulan ke depan, kemungkinan sebelum pemilihan legislatif yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Oktober.

Stasiun televisi tersebut, yang mengutip sumber-sumber pemerintah Israel, melaporkan pada hari Sabtu bahwa rezim Tel Aviv memperkirakan Dewan Perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat akan menyimpulkan dalam dua hingga tiga bulan ke depan bahwa Hamas telah melanggar perjanjian karena menolak untuk melucuti persenjataannya.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa keputusan semacam itu dapat memberikan dasar bagi Israel untuk melancarkan kembali operasi militer di wilayah-wilayah Gaza yang saat ini belum berada di bawah kendalinya, sehingga meningkatkan kemungkinan pecahnya kembali pertempuran.

Channel 12 juga mengutip seorang sumber politik yang mengatakan bahwa Direktur Jenderal dewan tersebut, Nikolay Mladenov, sebenarnya telah mempertimbangkan untuk menyatakan Hamas melanggar perjanjian sejak dua bulan lalu. Namun, langkah tersebut ditunda atas permintaan para mediator.

“Apabila tidak ada perubahan dalam waktu tiga bulan, Mladenov akan menyatakan Hamas telah melanggar perjanjian,” kata sumber yang tidak disebutkan namanya itu.

Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, militer Israel dilaporkan terus melancarkan serangan setiap hari di berbagai wilayah Jalur Gaza.

Baca juga: Israel Mengonfirmasi Mengerahkan Sistem Iron Dome ke UEA di Tengah Perang Melawan Iran

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata diberlakukan, serangan-serangan Israel telah menewaskan 1.066 orang dan melukai 3.445 lainnya.

Berdasarkan perkiraan setempat, Israel telah memperluas pendudukannya hingga sekitar 70 persen wilayah Gaza, sehingga warga Palestina hanya memiliki kurang dari 30 persen wilayah Jalur Gaza untuk dihuni.

Perang yang disebut sebagai genosida oleh Israel terhadap Gaza, yang dimulai pada 7 Oktober 2023 dengan dukungan Amerika Serikat, telah mengakibatkan hancurnya hampir 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut serta menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *