Al-Quds, Purna Warta – Hamas kembali menegaskan komitmen penuhnya terhadap kesepakatan yang telah dicapai dengan para mediator dan apa yang disebut sebagai Dewan Perdamaian mengenai peta jalan untuk menyelesaikan pelaksanaan tahap kedua kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza.
Juru bicara Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menanggapi klaim rezim Israel yang menuduh gerakan tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata dan kembali melakukan aktivitas militer.
Menurut kantor berita Shahab, Hazem Qassem menyebut tuduhan tersebut sebagai bagian dari propaganda Israel yang bertujuan membenarkan pelanggaran kesepakatan oleh pasukan pendudukan serta menghasut pihak-pihak lain untuk menentang Hamas.
Ia kembali menegaskan komitmen penuh Hamas terhadap kesepakatan gencatan senjata dan peta jalan yang telah disepakati, serta menyerukan kepada seluruh pihak agar memastikan Israel mematuhi kesepakatan tersebut.
Salah satu persoalan utama dalam pelaksanaan tahap berikutnya adalah siapa yang harus melakukan langkah terlebih dahulu dan bagaimana mekanisme transisi menuju tahap kedua. Tahap kedua secara prinsip berkaitan dengan penghentian perang secara lebih permanen, penarikan pasukan Israel, pembebasan seluruh sandera yang masih hidup, serta pembebasan tahanan Palestina sesuai ketentuan kesepakatan.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena pembicaraan tidak hanya melibatkan Israel dan Hamas, tetapi juga mediator dan aktor internasional. Mesir dan Qatar sebelumnya memainkan peran penting sebagai mediator, sementara Amerika Serikat terlibat dalam mendorong implementasi kerangka gencatan senjata.
Dari sisi kemanusiaan, kondisi di Gaza tetap menjadi perhatian besar. Badan-badan PBB terus memperingatkan mengenai keterbatasan akses bantuan, kebutuhan pangan dan medis, serta kerusakan besar terhadap infrastruktur sipil. Karena itu, keberlangsungan gencatan senjata bukan hanya menyangkut persoalan politik dan keamanan, tetapi juga menentukan apakah bantuan kemanusiaan dapat disalurkan secara lebih konsisten kepada penduduk Gaza.


