Al-Quds, Purna Warta – Mengutip Palestine Today, juru bicara Hamas Hazem Qassem mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari ini bahwa rezim pendudukan terus melancarkan perang dan pengepungan terhadap Jalur Gaza di bawah kedok pertemuan-pertemuan, pembicaraan tentang perdamaian, dewan perdamaian, dan upaya mediasi—pertemuan yang sama sekali gagal menghentikan pertumpahan darah rakyat Gaza maupun penghancuran sisa-sisa wilayah tersebut, dalam kerangka operasi pembersihan etnis yang berlangsung di hadapan mata dunia.
Ia menambahkan bahwa Israel telah meningkatkan operasi pengeboman, penghancuran rumah-rumah warga Palestina, serta serangan-serangan yang menyebabkan gugurnya warga sipil, luka-luka, pengungsian massal, dan pemaksaan perpindahan penduduk. Hal ini, menurutnya, membuktikan bahwa rezim tersebut terus melanjutkan perang genosida terhadap rakyat Gaza.
Hazem Qassem menyerukan kepada seluruh pihak yang mengklaim mendukung perdamaian dan penghentian tembakan untuk memberikan tekanan nyata kepada rezim pendudukan agar menghentikan perang terhadap Gaza, mencabut pengepungan, serta melaksanakan ketentuan-ketentuan Kesepakatan Sharm el-Sheikh.
Juru bicara Hamas itu juga menyatakan sehari sebelumnya bahwa perubahan dalam pengelolaan administratif Gaza sama sekali tidak berarti berakhirnya kehadiran Hamas dan kelompok-kelompok nasional Palestina lainnya di lapangan.
Ia menegaskan bahwa langkah Hamas untuk mundur dari peran administratif dilakukan demi mengutamakan kepentingan rakyat Palestina dan mengurangi penderitaan mereka, dan sama sekali tidak dapat dianggap sebagai penarikan diri dari peran nasional maupun dari proyek pembebasan gerakan tersebut.
Qassem menekankan bahwa Hamas akan tetap berkomitmen menjalankan kewajibannya dalam perjuangan menuntut hak-hak rakyat Palestina, termasuk kebebasan, kemerdekaan, dan hak untuk menentukan nasib sendiri.
Dalam laporan terpisah, Al Jazeera menyebutkan bahwa meskipun sejumlah pertemuan diplomatik internasional dan regional terus digelar dengan tajuk perdamaian dan stabilitas, operasi militer Israel di Gaza tidak menunjukkan tanda-tanda penghentian. Serangan udara dan darat masih berlangsung, sementara akses bantuan kemanusiaan tetap dibatasi secara ketat.
Sementara itu, Middle East Eye melaporkan bahwa organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional menilai pernyataan Israel mengenai komitmen terhadap perdamaian bertentangan dengan realitas di lapangan. Laporan tersebut menyoroti peningkatan pemboman di kawasan permukiman padat penduduk, penghancuran infrastruktur sipil, serta kebijakan pengepungan yang memperparah krisis kemanusiaan di Gaza.
Menurut Amnesty International, tindakan Israel yang terus menutup perbatasan, membatasi pasokan makanan, air, dan obat-obatan, serta menyerang target sipil, dapat dikategorikan sebagai hukuman kolektif yang dilarang oleh hukum internasional. Amnesty juga menegaskan bahwa retorika diplomatik tidak dapat dijadikan pembenaran atas pelanggaran hukum humaniter.
Di sisi lain, Reuters melaporkan bahwa sejumlah mediator internasional mengakui bahwa pembicaraan mengenai gencatan senjata masih menghadapi kebuntuan serius. Israel dinilai terus mengajukan persyaratan baru, sementara situasi di Gaza semakin memburuk dengan meningkatnya jumlah korban sipil dan pengungsian.
Pengamat politik regional menyimpulkan bahwa selama tindakan militer dan pengepungan terus berlanjut, klaim Israel mengenai upaya perdamaian akan tetap dipandang sebagai kontradiktif, sementara penderitaan rakyat Gaza kian berlarut-larut tanpa solusi nyata di cakrawala.


